We Are Creative Design Agency

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit. Illum, fuga, consectetur sequi consequuntur nisi placeat ullam maiores perferendis. Quod, nihil reiciendis saepe optio libero minus et beatae ipsam reprehenderit sequi.

Find Out More Purchase Theme

Our Services

Lovely Design

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Praesent feugiat tellus eget libero pretium, sollicitudin feugiat libero.

Read More

Great Concept

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Praesent feugiat tellus eget libero pretium, sollicitudin feugiat libero.

Read More

Development

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Praesent feugiat tellus eget libero pretium, sollicitudin feugiat libero.

Read More

User Friendly

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Praesent feugiat tellus eget libero pretium, sollicitudin feugiat libero.

Read More

Recent Work

Tampilkan postingan dengan label Khazanah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Khazanah. Tampilkan semua postingan

Rabu, 22 Mei 2013

Inilah Kenapa Al-Qur'an Memerintahkan Kita Untuk Memikirkan Tentang Onta

Segala sesuatu di alam semesta beserta ciri-ciri yang ada pada ciptaan ini menunjukkan Ilmu dan Kekuasaan Allah, Sang Pencipta yang Maha Agung. Allah seringkali menyatakan hal ini dalam Alqur'an, di mana ditegaskan bahwa segala sesuatu yang diciptakan-Nya pada hakikatnya adalah ayat, yakni tanda-tanda kekuasaan-Nya. Ayat ini juga memiliki arti peringatan atau pelajaran bagi manusia.
 
Di ayat ke-17 surat Al-Ghaasyiyah, Allah menyebut seekor binatang yang hendaknya kita pikirkan dan renungkan dengan seksama, yakni onta. Allah berfirman:
 
أَفَلَا يَنظُرُونَ إِلَى الْإِبِلِ كَيْفَ خُلِقَتْ
" Maka apakah mereka tidak memperhatikan onta bagaimana dia diciptakan?" 
 
Salah satu ciri khas onta adalah struktur tubuh yang sangat kuat dan tahan terhadap kondisi lingkungan yang paling ganas sekalipun. Onta mampu bertahan hidup berhari-hari tanpa makan dan minum. Mamalia ini dapat melakukan perjalanan jauh dengan beban ratusan kilogram di punggungnya selama berhari-hari.
 
Tahan lapar dan haus.
 
Onta mampu bertahan hidup tanpa makan dan minum selama delapan hari pada temperatur 50°C. Dalam masa ini, ia akan kehilangan 22% dari keseluruhan berat tubuhnya. Manusia bisa mati jika ia kehilangan air dalam tubuhnya sebanyak 12% dari berat badannya, akan tetapi seekor onta kurus mampu tetap hidup kendatipun cairan tubuh sejumlah 40% dari berat tubuhnya telah hilang. Salah satu alasan mengapa onta mampu menahan rasa haus selama berhari-hari adalah sebuah mekanisme yang memungkinkannya untuk menaikkan suhu internal tubuhnya hingga 41°C. Dengan cara ini, hewan tersebut dapat menekan berkurangnya jumlah air hingga batas minimum pada temperatur paling panas pada siang hari di gurun. Onta juga mampu menurunkan suhu internal tubuhnya hingga 30°C di gurun dengan temperatur sejuk di malam hari.
 
Pengguna air yang efisien:
 
Dalam waktu sekitar 10 menit, onta mampu meminum air hingga 130 liter, jumlah yang kurang lebih setara dengan sepertiga berat tubuhnya. Di samping itu, onta memiliki struktur berlendir dalam hidungnya dengan ukuran 100 kali lebih besar dari yang ada pada manusia. Hal ini memungkinkan onta mendapatkan 66% uap air yang terkandung dalam udara.
 
Tidak ada yang mubadzir:
 
Sebagian besar binatang akan mati keracunan ketika urea yang terakumulasi dalam ginjal mereka berdifusi ke dalam darah. Akan tetapi onta mampu memaksimalkan penggunaan air dan zat-zat makanan dengan cara mengalirkan urea berulang-ulang ke liver. Struktur darah dan sel onta sangatlah unik dan khas sehingga binatang ini mampu bertahan hidup dalam jangka waktu yang lama tanpa air di padang pasir.
 
Dinding sel pada onta memiliki struktur khusus yang mampu mencegah hilangnya air secara berlebihan. Tambahan lagi, adanya komposisi tertentu pada darah onta mencegah terjadinya pengurangan laju sirkulasi darah pada saat kadar air dalam tubuh onta menurun hingga batas minimum. Terdapat pula enzim albumin yang membantu daya tahan onta terhadap rasa haus. Enzim ini terdapat dalam jumlah yang jauh lebih banyak dibandingkan pada makhluk hidup yang lain.
 
Keberadaan ponok (=punggung yang menonjol vertikal ke atas) merupakan keuntungan tersendiri bagi onta. Seperlima berat tubuh onta adalah lemak yang tersimpan pada ponok tersebut. Karena tubuh mampu mengubah lemak menjadi senyawa bermanfaat lainnya termasuk air, maka penyimpanan lemak hanya pada satu tempat ini mencegah pengeluaran air dari keseluruhan tubuh onta. Hal ini memungkinkan onta menggunakan sesedikit mungkin air.
 
Kendatipun onta berponok mampu menghabiskan 30-50 kg makanan dalam satu hari, dalam situasi yang sulit binatang ini mampu hidup selama satu bulan dengan hanya mengkonsumsi makanan 2 kg rumput per hari. Onta memiliki bibir yang sangat kuat dan mirip karet yang menjadikannya mampu memakan duri yang cukup tajam untuk merobek kulit yang tebal sekalipun. Di samping itu, onta memiliki perut dengan empat bilik, serta sistem pencernaan yang sangat kuat yang mampu mencerna apa saja yang dimakan onta. Ciri-ciri ini sangat sesuai bagi binatang yang hidup di iklim sangat kering.
 
Perlindungan terhadap tornado dan badai:
 
Mata onta memiliki bulu mata yang tersusun menjadi dua lapisan. Lapisan bulu mata ini membentuk sebuah perangkap yang mampu melindungi mata onta dari badai pasir yang ganas. Di samping itu, onta dapat menutup hidungnya sehingga mencegah masuknya pasir ke dalam hidung.
 
Perlindungan terhadap panas dan dingin:
 
Rambut tebal yang menutupi tubuh onta mampu melindungi kulit onta dari terpaan sinar matahari yang panas membakar. Sebaliknya, pada cuaca yang amat dingin rambut ini mampu menjaga tubuh onta agar tetap hangat. Onta padang pasir tidak begitu terpengaruh oleh temperatur yang mencapai 50°C. Sebaliknya, onta Bactrian yang berponok ganda mampu bertahan hidup pada suhu -50°C. Onta jenis ini dapat hidup di ketinggian 4000 meter di atas permukaan laut.
 
Tapak kaki yang tahan panas:
 
Telapak kaki onta memiliki ukuran yang lebih besar dibandingkan ukuran dan panjang kakinya. Kaki ini dirancang secara khusus dan sengaja diciptakan dengan ukuran besar untuk membantu berjalan di atas padang pasir dengan mudah tanpa terperosok. Telapak kaki ini memiliki bentuk melebar dan menggembung. Selain itu, kulit yang tebal pada telapak tersebut merupakan bentuk perlindungan terhadap pasir gurun yang panas membakar.
 
Sekelumit uraian tentang onta di atas sudah sepatutnya mendorong kita untuk merenung sejenak: apakah onta melakukan adaptasi terhadap tubuhnya sendiri terhadap iklim padang pasir? Apakah binatang tersebut membuat sendiri lapisan lendir pada hidungnya, atau ponok yang menjulang di atas punggungnya? Apakah onta merancang sendiri bentuk hidung dan struktur matanya agar mampu melindungi dirinya dari tornado dan badai padang pasir? Benarkah hewan mamalia ini mendisain sendiri struktur darah dan sel-selnya berdasarkan prinsip efisiensi penggunaan air? Onta sendirikah yang memilih jenis rambut untuk menutupi seluruh tubuhnya?
 
Sebagaimana makhluk hidup yang lain, sudah pasti bahwa onta tidak mampu melakukan satu pun dari segalah hal di atas atau sengaja menjadikan dirinya bermanfaat untuk manusia. Bisa dimengerti jika ayat Alqur'an: "Maka apakah mereka tidak memperhatikan onta bagaimana dia diciptakan?" menyuruh kita untuk memperhatikan penciptaan binatang yang menakjubkan ini. Sebagaimana makhluk hidup yang lain, onta pun telah dilengkapi Allah dengan berbagai ciri yang unik dan istimewa, dan di tempatkan di bumi ini sebagai ayat, tanda-tanda kebesaran Pencipta.
 
Bagi onta, ia telah diciptakan dengan penampakan fisik yang luar biasa untuk kepentingan manusia. Sedangkan bagi manusia sendiri, selain mendapatkan manfaat dari onta, mereka diperintahkan oleh Allah untuk memperhatikan dan memikirkan segala keajaiban ciptaan yang ada di alam semesta, termasuk onta. Sehingga manusia akan takjub, tunduk dan patuh pada Al-Khaaliq, Pencipta segala sesuatu, Dialah Allah.
 
أَلَمْ تَرَوْا أَنَّ اللَّهَ سَخَّرَ لَكُم مَّا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ وَأَسْبَغَ عَلَيْكُمْ نِعَمَهُ ظَاهِرَةً وَبَاطِنَةً وَمِنَ النَّاسِ مَن يُجَادِلُ فِي اللَّهِ بِغَيْرِ عِلْمٍ وَلَا هُدًى وَلَا كِتَابٍ مُّنِيرٍ
"Tidakkah kamu perhatikan sesungguhnya Allah telah menundukkan untuk (kepentingan)mu apa yang di langit dan apa yang di bumi dan menyempurnakan untukmu ni'mat-Nya lahir dan batin. Dan di antara manusia ada yang membantah tentang (keEsaan) Allah tanpa ilmu pengetahuan atau petunjuk dan tanpa Kitab yang memberi penerangan. (QS. Luqmaan, 31: 20).

Inilah Asal Muasal Kalimat Penutup Pidato : Billahit taufiq wal Hidayah dan Wallahul Muwaffiq ila Aqwamit Thariq

Kalimat penutup pidato dan surat-menyurat khas warga NU sebelum salam penutupan. Arti harfiahnya: “Allah adalah Dzat yang memberi petunjuk ke jalan yang selurus-lurusnya.” Istilah ini diciptakan oleh KH Ahmad Abdul Hamid dari Kendal, Jawa Tengah.
 
Sebelum menciptakan kalimat Wallahul muwaffiq ila aqwamit-tharieq, Kiai Ahmad telah menciptakan istilah Billahit taufiq wal-hidayah. Namun karena Billahit taufiq wal hidayah kemudian digunakan oleh hampir semua kalangan umat Islam, maka ia merasa kekhasan untuk orang NU tidak ada lagi. 
 
Untuk itu ia menciptakan istilah baru, Wallahul muwaffiq ila aqwamit tharieq yang dirasakan cukup sulit ditirukan oleh orang non-NU.
 
KH Ahmad Abdul Hamid adalah salah satu ulama kharismatik di Jawa Tengah. Ia merupakan pengasuh Pondok Pesantren al-Hidayah dan Imam Masjid Besar Kendal. Karena peran dan ketokohannya, masyarakat Kendal menyebutnya sebagai “Bapak Kabupaten Kendal”. 
 
Kiprah Kiai Ahmad, demikian panggilannya sehari-hari, di lingkungan NU dimulai dari tingkat daerah sampai PBNU. Beberapa posisi penting di NU yang pernah didudukinya adalah Rais Syuriyah PCNU Kabupaten Kendal, Wakil Rais Syuriyah PWNU Jawa Tengah, Rais Syuriyah PWNU Jawa Tengah (dengan Katib KH Sahal Mahfudz), dan terakhir sebagai Mustasyar PBNU. Ia juga tercatat sebagai distributor majalah Berita NO, yang terbit tahun 1930an. Dalam sebuah tulisan, Kiai Sahal Mahfudz menyebutkan bahwa Kiai Ahmad menyimpan dokumen-dokumen majalah NU seperti Buletin LINO (Lailatul Ijtima' Nadhlatoel Oelama)
 
Kiai Ahmad termasuk sangat produktif menulis dan menerjemahkan kitab-kitab. Kitab-kitabnya umumnya ditulis dalam bahasa Jawa dengan tulisan Arab Pegon. Salah satu tulisannya yang cukup fenomenal adalah terjemahan Qanun Asasi Hadlratus Syech KH Hasyim Asy’ari yang ia terjemahkan atas permintaan Sekretaris Jenderal PBNU Prof. KH Saifudin Zuhri. 
 
Terjemahan tersebut telah dimulai oleh KH Mahfud Sidiq, tetapi tidak selesai sehingga PBNU meminta Kiai Ahmad untuk menyelesaikannya. Terjemahan itu oleh Kiai Ahmad dinamakan Ihyau Amalil Fudlala’ Fi Tarjamati Muqaddimatil Qanunil Asasi li-Jam’iyati Nahdlatil Ulama. 
 
KH Ahmad Abdul Hamid wafat pada 14 Februari 1998 bertepatan dengan 16 Syawal 1418 H. (Sumber: Ensiklopedi NU)

Islam di Spanyol: Benteng Terakhir itu Bernama Granada


Kota Granada menjadi terkenal ketika kaum Arab (disebut bangsa Moor oleh orang Barat) memilih daerah itu untuk menjadi lokasi perdagangan di awal abad ke-13. Se­gera setelah itu, sebuah kompleks ben­teng, dengan nama Qalat Al-Hamra (Ben­teng Merah), dibangun di atas plato tinggi untuk memberikan pemandangan kota yang indah bagi emir Moor, serta lokasi yang tepat untuk mempertahan­kan diri dari para penyerang.
  Awalnya, sebagai sebuah tempat perlindungan ketika Granada dikepung, tembok-tembok tinggi Al-Hamra pada akhirnya menjadi sebuah benteng, me­magari pasar kecil dan beberapa istana indah. Perkembangan selanjutnya, “is­tana” ini kemudian dirancang untuk men­cerminkan keindahan surga. Al-Hamra pun akhirnya menjadi kompleks yang ter­diri atas taman-taman, air mancur, su­ngai kecil, istana, dan sebuah masjid, se­muanya di dalam tembok yang dikelilingi 13 menara raksasa di titik-titik strategis.

Kiblat Pelajar Dunia

Sejarah mencatat, Granada adalah salah satu pusat ilmu pengetahuan di masa kejayaan Islam. Granada menjadi tempat paling diburu oleh para pelajar di seluruh dunia.

Granada terletak di selatan kota Mad­rid, ibu kota Spanyol sekarang. Gra­nada memiliki keindahan yang amat mengagumkan. Itu sebabnya, nama “Granada” diambil dari nama keindahan (granada artinya “kecantikan” dan “ke­indahan”).

Kawasan ini terbentang di sekitar Laut Mediterranian dari selatan dan ber­ada di sekitar Sungai Syanil. Tempat yang enak dipandang mata, karena ber­ada di ketinggian 669 meter dari atas laut. Konon, inilah rahasia keindahan dan kecantikan Granada.

Setelah Islam memasuki Spanyol le­wat Andalusia, tempat ini menjadi salah satu pusat ilmu pengetahuan Islam yang agung dan tergolong dalam kawasan lain­nya yang tak kalah menarik dan ber­sejarah setelah Andalusia, Cordova, Ba­lansiah, Bahrit, Ichiliah, Tolaitalah, dan yang lainnya. Granada juga termasyhur sebagai kiblat yang menjadi tumpuan harapan para pelajar yang datang dari segenap kawasan yang berada di sekitar Granada, baik kaum muslimin maupun non-muslim. Pusat pengkajian yang termasyhur di Granada adalah Al-Yusufiah dan An-Nashriyyah.

Di sini juga telah terahir banyak ilmu­wan muslim yang terkenal. Di antaranya Abu Al-Qasim Al-Majrithi, sebagai pen­cetus kebangkitan astronomi Andalusia pada tahun 398 Hijriyyah atau sekitar tahun 1008 Masehi. Ia telah memberikan dasar bagi salah satu pusat pengkajian ilmu matematika.

Selain Abu Al-Qasim, juga masih ada sejumlah ilmuwan dan ulama terkenal, di antaranya Al-Imam Asy-Syathibi, Lisa­nuddin Al-Khatib, As-Sarqasti, Ibnu Zamrak, Muhammad Ibnu Ar-Riqah, Abu Yahya Ibnu Ridwan, Abu Abdullah Al-Fahham, Ibnu As-Sarah, Yahya Ibnu Al-Huzail At-Tajibi, As-Shaqurmi, Ibnu Zuh­ri. Di kalangan wanita, tercatat nama-nama seperti Hafsah binti Al-Haj, Ham­dunah binti Ziad, dan saudaranya, Zainab.

Setelah kekuasaan keturunan Bani Ahmar menetap di Granada dan sekitar­nya di Timur Laut, dekat dengan ke­dudukan Al-Hamra, pada tempat yang begitu strategis, mereka membangun salah satu istana yang terkenal dengan nama “Istana Al-Hamra”.

Al-Hamra juga menjadi nama salah satu kota yang sederhana saat berada dalam kekuasaan Badis bin Habus, lalu dia menjadikan kota Al-Hamra sebagai pusat pemerintahannya. Ia membangun sebuah benteng yang besar di sekitar bukit yang tinggi, yang kemudian ter­kenal dengan nama “Benteng Granada”.

Dalam waktu yang cukup lama, Gra­nada menjadi sebuah kota yang tidak da­pat dikalahkan. Karena dimakan umur, bangunan benteng kemudian berubah warna menjadi merah, dan di kawasan inilah Istana Al-Hamra dibangun (Al-Hamra artinya “Istana Merah”).

April Mop

Dalam budaya masyarakat Barat, ada satu hari yang dikenal dengan istilah “April Mop”. Sebenarnya, April Mop ter­kait dengan tragedi dalam sejarah Islam di Granada. Hari itu merupakan pera­ya­an hari kemenangan atas dibunuhnya ribuan umat Islam Spanyol oleh tentara salib yang dilakukan lewat cara-cara penipuan. Sebab itulah, April Mop “di­rayakan” dengan cara melegalkan pe­nipuan dan kebohongan walau dibung­kus dengan dalih sekadar hiburan atau keisengan.

Biasanya orang akan menjawab bah­wa April Mop, yang hanya berlaku pada tanggal 1 April, adalah hari di mana kita boleh dan sah-sah saja menipu te­man, orangtua, saudara, atau lainnya, dan sang target tidak boleh marah atau emosi ketika sadar bahwa dirinya telah menjadi sasaran April Mop. Biasanya sang target, jika sudah sadar kena April Mop, akan tertawa, atau mengumpat se­bal, tentu saja bukan marah sungguhan.

Walaupun belum sepopuler peraya­an tahun baru atau Valentine’s Day, bu­daya April Mop dalam dua dekade ter­akhir memperlihatkan kecenderungan yang makin akrab di masyarakat per­kotaan kita. Terutama di kalangan anak muda. Bukan mustahil pula, ke depan juga akan meluas ke masyarakat yang ting­gal di pedesaan. Ironisnya, masya­rakat dengan mudah meniru kebuda­ya­an Barat ini tanpa mengkritisinya terlebih dahulu, apakah budaya itu baik atau ti­dak, bermanfaat atau sebaliknya.

Perayaan April Mop berawal dari suatu tragedi besar yang sangat menye­dihkan dan memilukan? April Mop, atau The April’s Fool Day, berawal dari satu episode sejarah muslim Spanyol di tahun 1487 M, atau bertepatan dengan 892 H.

Sejak dibebaskan Islam pada abad ke-8 M oleh Panglima Thariq bin Ziyad, Spanyol berangsur-angsur tumbuh men­jadi satu negeri yang makmur. Pasukan Islam tidak saja berhenti di Spanyol, na­mun terus melakukan pembebasan di ne­geri-negeri sekitar menuju Prancis. Pran­cis Selatan dengan mudah dibebas­kan. Kota Carcassone, Nimes, Bordeaux, Lyon, Poitou, Tours, dan sebagainya jatuh. Walaupun sangat kuat, pasukan Islam masih memberikan toleransi ke­pada suku Goth dan Navaro di daerah sebelah barat yang berupa pegunungan. Islam telah menerangi Spanyol.

Karena sikap para penguasa Islam yang begitu baik dan rendah hati, banyak orang Spanyol yang kemudian dengan tulus dan ikhlas memeluk Islam. Muslim Spanyol bukan saja beragama Islam, namun sungguh-sungguh mempraktek­kan kehidupan secara Islami. Tidak saja membaca Al-Qur’an, namun bertingkah laku berdasarkan Al-Qur’an. Mereka se­lalu berkata “tidak” untuk musik, bir, per­gaulan bebas, dan segala hal yang di­larang Islam. Keadaan tenteram seperti itu berlangsung hampir enam abad lama­nya.

Selama itu pula kaum kafir yang ma­sih ada di sekeliling Spanyol terus berupaya membersihkan Spanyol dari Islam, namun selalu gagal. Maka dikirim­lah sejumlah mata-mata un­tuk mem­pelajari kelemahan umat Islam Spanyol.

Akhirnya mereka menemukan cara un­tuk menaklukkan Islam, yakni dengan pertama-tama melemahkan iman me­reka melalui jalan serangan pemikiran dan budaya. Musik diperdengarkan un­tuk membujuk kaum mudanya agar lebih suka bernyanyi dan menari daripada mem­­baca Al-Qur’an. Mereka juga me­ngirimkan sejumlah ulama palsu untuk meniup-niupkan perpecahan ke dalam tubuh umat Islam Spanyol. Lama-ke­lamaan upaya ini membuahkan hasil.

Akhirnya Spanyol jatuh dan bisa di­kuasai pasukan salib. Penyerangan oleh pasukan salib benar-benar dilakukan de­ngan kejam tanpa mengenal perike­ma­nusiaan. Tidak hanya pasukan Islam yang dibantai, tetapi juga penduduk sipil, wanita, anak-anak kecil, orang-orang tua. Satu per satu daerah di Spanyol jatuh.

Granada adalah daerah terakhir yang ditaklukkan. Penduduk-penduduk Islam di Spanyol (juga disebut orang Moor) terpaksa berlindung di dalam ru­mah untuk menyelamatkan diri, namun tentara-tentara salib terus mengejar me­reka. Ketika jalan-jalan sudah sepi, ting­gal menyisakan ribuan mayat yang ber­gelimpangan bermandikan genangan da­rah, tentara salib mengetahui bahwa banyak muslim Granada yang masih bersembunyi di rumah-rumah. Dengan lantang tentara salib itu meneriakkan pengumuman bahwa para muslim Gra­nada bisa keluar dari rumah dengan aman dan diperbolehkan berlayar keluar Spanyol dengan membawa barang-ba­rang keperluan mereka.

Orang-orang Islam masih curiga de­ngan tawaran ini. Namun beberapa di antara orang muslim diperbolehkan me­lihat sendiri kapal-kapal penumpang yang sudah dipersiapkan di pelabuhan. Setelah benar-benar melihat ada kapal yang sudah disediakan, mereka pun se­gera bersiap untuk meninggalkan Gra­nada dan berlayar meninggalkan Spa­nyol.

Keesokan harinya, ribuan penduduk mus­lim Granada keluar dari rumah-ru­mah mereka dengan membawa seluruh barang keperluan, beriringan berjalan me­nuju ke pelabuhan. Beberapa orang Islam yang tidak mempercayai pasukan salib memilih bertahan dan terus ber­sem­bunyi di rumah-rumah mereka.

Setelah ribuan umat Islam Spanyol berkumpul di pelabuhan, dengan cepat tentara salib menggeledah rumah-rumah yang telah ditinggalkan penghuninya. Lidah api terlihat menjilat-jilat angkasa ketika mereka membakari rumah-rumah tersebut bersama dengan orang-orang Islam yang masih bertahan di dalamnya.

Sedang ribuan umat Islam yang pergi menuju pelabuhan pun tertahan di sana, karena tentara salib juga memba­kar kapal-kapal yang dikatakan akan mengangkut mereka keluar dari Spa­nyol. Kapal-kapal itu dengan cepat teng­gelam. Ribuan umat Islam itu tidak bisa berbuat apa-apa, karena sama sekali ti­dak bersenjata. Mereka juga kebanyak­an terdiri dari para wanita dengan anak-anaknya yang masih kecil-kecil. Sedang para tentara salib telah mengepung me­reka dengan pedang terhunus.

Dengan satu teriakan dari pemim­pin­nya, ribuan tentara salib segera mem­ban­tai umat Islam Spanyol, tanpa rasa belas kasihan. Jerit tangis dan takbir mem­bahana. Seluruh muslim Spanyol di pelabuhan itu habis dibunuh dengan ke­jam. Darah menggenang di mana-mana, di darat dan di lautan. Laut yang biru ber­ubah menjadi merah kehitam-hitaman.

Tragedi ini bertepatan dengan tang­gal 1 April. Inilah yang kemudian diperi­ngati oleh dunia Kristen setiap tanggal 1 April sebagai April Mop, The April’s Fool Day. Pada tanggal 1 April, orang-orang diperbolehkan menipu dan berbo­hong kepada orang lain.

Dalam sejarahnya, bagi umat Kris­tiani, April Mop merupakan hari keme­nangan atas dibunuhnya ribuan umat Islam Spanyol oleh tentara salib lewat cara-cara penipuan. Sebab itulah, me­reka merayakan April Mop dengan cara melegalkan penipuan dan kebohongan walau dibungkus dengan dalih sekadar hiburan atau keisengan belaka. Namun dalam perkembangannya kini, unsur historis mungkin tidak lagi dominan, yang lebih kuat adalah hiburan atau keisengan dengan cara penipuan atau kebohongan, tentu tidak sungguh-sung­guh.

Sedang bagi umat Islam, dengan melihat sejarahnya, April Mop tentu merupakan perayaan akan tragedi yang sangat menyedihkan. Hari ketika ribuan saudara-saudara kita dibantai oleh ten­tara salib di Granada, Spanyol. Sebab itu, sangatlah tidak pantas jika ada orang Islam yang ikut-ikutan merayakan tradisi ini. Sekali lagi dengan melihat sejarah­nya, siapa pun orang Islam yang turut me­rayakan April Mop sesungguhnya tengah merayakan ulang tahun pembu­nuhan massal ribuan saudara-sau­daranya di Granada, Spanyol, lima abad silam.

Istana Al-Hamra

Al-Hamra adalah warisan yang membanggakan bagi kebudayaan Arab di Spanyol serta keahlian pembangun muslim, Yahudi, dan Kristen.

Nama “Al-Hamra” berasal dari warna merah tanah liat yang digali untuk mem­buat tembok-temboknya. Sebuah penje­lasan yang lebih puitis datang dari para cendekiawan muslim yang mengatakan bahwa pembangunan benteng Al-Hamra dilakukan dengan cahaya obor, yang kemudian memberikan warna merah pada tembok-tembok itu.

Dimulai pada tahun 1238 oleh penguasa muslim, Muhammad Al-Ahmar, pembangunan kompleks Al-Hamra diselesaikan oleh anak laki-lakinya, Muhammad II. Generasi pene­rus para pemimpin muslim terus mem­per­luas bangunan yang telah ada dan menambahkan beberapa bangunan baru.

Selesai dibangun menjelang akhir kekuasaan muslim oleh Yusuf I (1333-1353) dan Muhammad Sultan (1353-1391), beberapa bangunan terakhir yang dibangun di Al-Hamra mencerminkan kebudayaan Emirat Nasrid.

Lingkungan itu juga menjadi tempat mengungsi para seniman dan intelektual ketika Kristen Spanyol bergerak masuk ke kawasan tersebut.

Pada tahun 1527, ketika Andalusia jatuh ke tangan penjajah, kaum muslim akhirnya terpaksa meninggalkan lahan seluas 142.000 meter persegi itu.

Setelah invasi kaum Kristen, Al-Hamra mengalami penelantaran dan hampir menjadi puing-puing tak berbe­kas jika tak dikunjungi oleh seorang penulis terkenal Amerika.

Pada tahun 1829, saat mengelilingi Eropa, novelis Washington Irving – paling dikenal dengan horor klasiknya, The Legend of Sleepy Hollow – mengun­jungi Al-Hamra dan terinspirasi untuk menulis satu koleksi kisah petualangan romantis yang berjudul Tales of the Al-Hamra. Dalam suratnya yang dikirim ke seorang teman, Irving menuliskan bah­wa Al-Hamra adalah kota yang paling indah, berlokasi di lanskap yang paling cantik yang pernah ia lihat.

Pujian Irving terhadap Al-Hamra dan sukses besar bukunya mengubah Gra­nada dan sekitarnya menjadi kota yang paling sering dikunjungi di Eropa. Aliran uang dari wisatawan juga memfasilitasi perbaikan bangunan-bangunan, me­nara, lapangan, kolam ikan, dan taman-taman Al-Hamra.

Sekarang, Al-Hamra menjadi pa­meran arsitektur, desain lanskap, dan desain interior Islam, dan merupakan salah satu daya tarik wisatawan yang terkenal.

Abu Nasr Mansur (960 M - 1036 M) : Ilmuan Muslim Penemu Hukum Sinus


KHAZANAH - Saat masih sekolah di bangku sekolah menengah, tentu Anda pernah mempelajari istilah sinus dalam mata pelajara matematika. Sinus adalah perbandingan sisi segitiga yang ada di depan sudut dengan sisi miring.  Hukum sinus itu ternyata dicetuskan seorang matematikus Muslim pada awal abad ke-11 M.
  Ahli matematika itu bernama Abu Nasr Mansur ibnu Ali ibnu Iraq atau akrab disapa Abu Nasr Mansur (960 M - 1036 M).  Bill Scheppler dalam karyanya bertajuk al-Biruni: Master Astronomer and Muslim Scholar of the Eleventh Century, mengungkapkan, bahwa  Abu Nasr Mansur merupakan seorang ahli matematika Muslim dari Persia.

"Dia dikenal sebagai penemuan hukum sinus," ungkap Scheppler.  Ahli sejarah Matematika John Joseph O'Connor dan Edmund Frederick Robertson menjelaskan bahwa Abu Nasr Mansur  terlahir di kawasan  Gilan, Persia pada tahun 960 M. Hal itu tercatat dalam The Regions of the World, sebuah buku geografi Persia bertarikh 982 M.

Keluarganya "Banu Iraq" menguasai wilayah Khawarizm (sekarang, Kara-Kalpakskaya, Uzbekistan). Khawarizm merupakan wilayah yang berdampingan dengan Laut Aral. "Dia menjadi seorang pangeran dalam bidang politik," tutur O'Cornor dan Robertson.

Di Khawarizm itu pula, Abu Nasr Mansur menuntut ilmu dan berguru pada seorang astronom dan ahli matematika Muslim terkenal Abu'l-Wafa (940 M - 998 M). Otaknya yang encer membuat Abu Nasr dengan mudah menguasai matematika dan astronomi. Kehebatannya itu pun menurun pada muridnya, yakni  Al-Biruni (973 M - 1048 M).

Kala itu, Al-Biruni tak hanya menjadi muridnya saja, tapi juga menjadi koleganya yang sangat penting dalam bidang matematika. Mereka bekerja sama menemukan rumus-rumus serta hukum-hukum yang sangat luar biasa dalam matematika. Kolaborasi kedua ilmuwan itu telah melahirkan sederet penemuan yang sangat hebat dan bermanfaat bagi peradaban manusia.

Perjalanan kehidupan Abu Nasr dipengaruhi oleh situasi politik yang kurang stabil. Akhir abad ke-10 M hingga awal abad ke-11 M merupakan periode kerusuhan hebat di dunia Islam. Saat itu, terjadi perang saudara di kota sang ilmuwan menetap. Pada era itu, Khawarizm menjadi bagian dari wilayah kekuasaan Dinasti Samaniyah.

Perebutan kekuasaan di antara dinasti-dinasti kecil di wilayah Asia Tengah itu membuat situasi politik menjadi kurang menentu. Pada 995 M, kekuasaan Banu Iraq digulingkan. Saat itu, Abu Nasr Mansur menjadi pangeran. Tidak jelas apa yang terjadi pada Abu Nasr Mansur di negara itu, namun yang pasti muridnya al-Biruni berhasil melarikan diri dari ancaman perang saudara itu.

Setelah peristiwa itu, Abu Nasr Mansur bekerja di istana Ali ibnu Ma'mun dan menjadi penasihat Abu'l Abbas Ma'mun. Kehadiran Abu Nasr membuat kedua penguasa itu menjadi sukses.

Ali ibnu Ma'mun dan Abu'l Abbas Ma'mun merupakan pendukung ilmu pengetahuan. Keduanya mendorong dan mendukung Abu Nasr mengembangkan ilmu pengetahuan. Tak heran jika ia menjadi ilmuwan paling top di istana itu.  Karya-karyanya sangat dihormati dan dikagumi.

Abu Nasr Mansur menghabiskan sisa hidupnya di istana Mahmud di Ghazna. Ia wafat pada 1036 M di Ghazni, sekarang Afghanistan.  Meski begitu, karya dan kontribusianya bagi pengembangan sains tetap dikenang sepanjang masa. Dunia Islam modern tak boleh melupakan sosok ilmuwan Muslim yang satu ini.


Kontribusi Sang Ilmuwan

Abu Nasr Mansur telah memberikan kontribusi yang penting dalam dunia ilmu pengetahuan. Sebagian Karya Abu Nasr fokus pada bidang matematika, tapi beberapa tulisannya juga membahas masalah astronomi.

Dalam bidang matematika, dia memiliki begitu banyak karya yang sangat penting dalam trigonometri.  Abu Nasr berhasil mengembangkan karya-karya ahli matematika, astronomi, geografi dan astrologi  Romawi bernama  Claudius Ptolemaeus (90 SM – 168 SM).

Dia juga mempelajari karya ahli matematika dan astronom Yunani, Menelaus of Alexandria (70 SM – 140 SM). Abu Nasr mengkritisi dan mengembangkan teori-teori serta hukum-hukum yang telah dikembangkan ilmuwan Yunani itu.

Kolaborasi Abu Nasr dengan al-Biruni begitu terkenal. Abu Nasr berhasil menyelesaikan sekitar 25 karya besar bersama  al-Biruni. " Sekitar 17 karyanya hingga kini masih bertahan.   Ini menunjukkan bahwa Abu Nasr Mansur adalah seorang astronom dan ahli matematika yang luar biasa,"  papar  ahli sejarah Matematika John Joseph O'Connor dan Edmund Frederick Robertson

Dalam bidang Matematika, Abu Nasr memiliki tujuh karya, sedangkan sisanya  dalam bidang astronomi. Semua karya yang masih bertahan telah dipublikaskan, telah dialihbahasakan kedalam bahasa Eropa, dan ini memberikan beberapa indikasi betapa sangat pentingnya karya sang ilmuwan Muslim itu.

Secara khusus Abu Nasr mempersembahkan sebanyak 20 karya kepada muridnya al-Biruni. Salah satu adikarya sang saintis Muslim ini adalah komentarnya dalam The Spherics of Menelaus.

Perannya sungguh besar dalam pengembangan trigonometri dari perhitungan Ptolemy dengan penghubung dua titik fungsi trigonometri yang hingga kini masih tetap digunakan. Selain itu, dia juga berjasa dalam mengembangkan dan mengumpulkan tabel yang  mampu memberi solusi angka yang mudah untuk masalah khas spherical astronomy (bentuk astronomi).

Abu Nasr juga mengembangkan The Spherics of Menelaus yang merupakan bagian penting, sejak karya asli Menelaus Yunani punah. Karya Menelaus berasal dari dasar solusi angka Ptolemy dalam masalah bentuk astronomi yang tercantum dalam risalah Ptolemy bertajuk Almagest.

"Karyanya di dalam tiga buku: buku pertama mempelajari kandungan/kekayaan bentuk segitiga, buku kedua meneliti kandungan sistem paralel lingkaran dalam sebuah bola/bentuk mereka memotong lingkaran besar, buku ketiga memberikan bukti dalil Menelaus," jelas O'Cornor dan Robertson.

Pada karya trigonometrinya, Abu Nasr Mansur menemukan hukum sinus sebagai berikut:

a/sin A = b/sin B = c/sin C.

"Abu'l-Wafa mungkin menemukan hukum ini pertama dan Abu Nasr Mansur mungkin belajar dari dia. Pastinya keduanya memiliki prioritas kuat untuk menentukan dan akan hampir pasti tidak pernah diketahui dengan kepastian," ungkap O'Cornor dan Robertson.

O'Cornor dan Robertson juga menyebutkan satu nama lain, yang disebut sebagai orang ketiga yang kadang-kadang disebut sebagai penemu hukum yang sama, seorang astronom dan ahli matematika Muslim dari Persia, al-Khujandi (940 M - 1000 M).

Namun, kurang beralasan jika al-Khujandi dsebut sebagai penemu hukum sinus, seperti yang ditulis Samso dalam bukunya Biography in Dictionary of Scientific Biography (New York 1970-1990). "Dia adalah seorang ahli astronomi praktis yang paling utama, yang tidak peduli dengan masalah teoritis," katanya.

Risalah Abu Nasr membahas lima fungsi trigonometri yang digunakan untuk menyelesaikan masalah dalam bentuk astronomi. Artikel menunjukkan perbaikan yang diperoleh Abu Nasr Mansur dalam penggunan pertama sebagai nilai radius. Karya lain Abu Nasr Mansur dalam bidang astronomi meliputi empat karya dalam menyusun dan mengaplikasi astrolab.


Al-Biruni, Saksi Kehebatan Abu Nasr

Sejatinya, dia adalah murid sekaligus kawan bagi Abu Nasr Mansur. Namun, dia lebih terkenal dibandingkan sang guru.
Meski begitu, al-Biruni tak pernah melupakan jasa Abu Nasr dalam mendidiknya. Kolaborasi kedua ilmuwan dari abad ke-11 M itu sangat dihormati dan dikagumi.

Abu Nasr telah 'melahirkan' seorang ilmuwan yang sangat hebat. Sejarawan Sains Barat, George Sarton begitu mengagumi kiprah dan pencapaian al-Biruni dalam beragam disiplin ilmu. ”Semua pasti sepakat bahwa Al-Biruni adalah salah seorang ilmuwan yang sangat hebat sepanjang zaman,” cetus Sarton.

Bukan tanpa alasan bila Sarton dan Sabra mendapuknya sebagai seorang ilmuwan yang agung. Sejatinya, al-Biruni memang seorang saintis yang sangat fenomenal. Sejarah mencatat, al-Biruni sebagai sarjana Muslim pertama yang mengkaji dan mempelajari tentang seluk beluk India dan tradisi Brahminical. Dia sangat intens mempelajari bahasa, teks, sejarah, dan kebudayaan India.

Kerja keras dan keseriusannya dalam mengkaji dan mengeksplorasi beragam aspek tentang India, al-Biruni pun dinobatkan sebagai ‘Bapak Indologi’ — studi tentang India. Tak cuma itu, ilmuwan dari Khawarizm, Persia itu juga dinobatkan sebagai ‘Bapak Geodesi’.

Di era keemasan Islam, al-Biruni ternyata telah meletakkan dasar-dasar satu cabang keilmuan tertua yang berhubungan dengan lingkungan fisik bumi. Selain itu, al-Biruni juga dinobatkan sebagai ‘antropolog pertama’ di seantero jagad. Sebagai ilmuwan yang menguasai beragam ilmu, al-Biruni juga menjadi pelopor dalam berbagai metode pengembangan sains.

Sejarah sains mencatat, ilmuwan yang hidup di era kekuasaan Dinasti Samaniyah itu merupakan salah satu pencetus metode saintifik eksperimental. Al-Biruni pun tak hanya menguasai beragam ilmu seperti; fisika, antropologi, psikologi, kimia, astrologi, sejarah, geografi, geodesi, matematika, farmasi, kedokteran, serta filsafat. Dia juga turun memberikan kontrbusi yang begitu besar bagi setiap ilmu yang dikuasainya itu.

Our Blog

55 Cups
Average weekly coffee drank
9000 Lines
Average weekly lines of code
400 Customers
Average yearly happy clients

Our Team

Tim Malkovic
CEO
David Bell
Creative Designer
Eve Stinger
Sales Manager
Will Peters
Developer

Contact

Talk to us

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit. Dolores iusto fugit esse soluta quae debitis quibusdam harum voluptatem, maxime, aliquam sequi. Tempora ipsum magni unde velit corporis fuga, necessitatibus blanditiis.

Address:

9983 City name, Street name, 232 Apartment C

Work Time:

Monday - Friday from 9am to 5pm

Phone:

595 12 34 567