We Are Creative Design Agency

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit. Illum, fuga, consectetur sequi consequuntur nisi placeat ullam maiores perferendis. Quod, nihil reiciendis saepe optio libero minus et beatae ipsam reprehenderit sequi.

Find Out More Purchase Theme

Our Services

Lovely Design

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Praesent feugiat tellus eget libero pretium, sollicitudin feugiat libero.

Read More

Great Concept

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Praesent feugiat tellus eget libero pretium, sollicitudin feugiat libero.

Read More

Development

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Praesent feugiat tellus eget libero pretium, sollicitudin feugiat libero.

Read More

User Friendly

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Praesent feugiat tellus eget libero pretium, sollicitudin feugiat libero.

Read More

Recent Work

Tampilkan postingan dengan label kumpulan cerita abu nawas. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kumpulan cerita abu nawas. Tampilkan semua postingan

Senin, 29 April 2013

Kisah Abu Nawas Asmara Memang Aneh

- Secara tak terduga Pangeran yang menjadi putra mahkota jatuh sakit. Sudah banyak tabib yang didatangkan untuk memeriksa dan mengobati tapi tak seorang pun mampu menyembuhkannya. Akhirnya Raja mengadakan sayembara.
Sayembara boleh diikuti oleh rakyat dari semua lapisan. Tidak terkecuali oleh para penduduk negeri tetangga.

Sayembara yang menyediakan hadiah menggiurkan itu dalam waktu beberapa hari berhasil menyerap ratusan peserta. Namun tak satu pun dari mereka berhasil mengobati penyakit sang pangeran.
Akhirnya sebagai sahabat dekat Abu Nawas, menawarkan jasa baik untuk menolong sang putra mahkota.
Baginda Harun Al Rasyid menerima usul itu dengan penuh harap.

Abu Nawas sadar bahwa dirinya bukan tabib. Dari itu ia tidak membawa peralatan apa-apa. Para tabib yang ada di istana tercengang melihat Abu Nawas yang datang tanpa peralatan yang mungkin diperlukan.
Mereka berpikir mungkinkah orang macam Abu Nawas ini bisa mengobati penyakit sang pangeran ?
Sedangkan para tabib terkenal dengan peralatan yang lengkap saja tidak sanggup bahkan penyakitnya tidak terlacak.


Abu Nawas merasa bahwa seluruh perhatian tertuju padanya. Namun Abu Nawas tidak begitu memperdulikannya. Abu Nawas dipersilahkan memasuki kamar pangeran yang sedang terbaring. la menghampiri sang pangeran dan duduk di sisinya.
Setelah Abu Nawas dan sang pangeran saling pandang beberapa saat, Abu Nawas berkata,

"Saya membutuhkan seorang tua yang di masa mudanya sering mengembara ke pelosok negeri."

Orang tua yang diinginkan Abu Nawas didatangkan.
"Sebutkan satu persatu nama-nama desa di daerah selatan" perintah Abu Nawas kepada orang tua itu.

Ketika orang tua itu menyebutkan nama-nama desa bagian selatan, Abu Nawas menempelkan telinganya ke dada sang pangeran. Kemudian Abu Nawas memerintahkan agar menyebutkan bagian utara, barat dan timur.
Setelah semua bagian negeri disebutkan, Abu Nawas mohon agar diizinkan mengunjungi sebuah desa di sebelah utara.

Raja merasa heran sambil berkata :
"Engkau ku undang ke sini bukan untuk bertamasya...!"

"Hamba tidak bermaksud berlibur Yang Mulia" kata Abu Nawas.

"Tetapi aku belum paham" kata Raja.

"Maafkan hamba, Paduka Yang Mulia. Kurang bijaksana rasanya bila hamba jelaskan sekarang." kata Abu Nawas.

Abu Nawas pergi selama dua hari. Sekembali dari desa itu Abu Nawas menemui sang pangeran dan membisikkan sesuatu kemudian menempelkan telinganya ke dada sang pangeran. Lalu Abu Nawas menghadap Raja,
"Apakah Yang Mulia masih menginginkan sang pangeran tetap hidup ?"tanya Abu Nawas.

"Apa maksudmu ?" Raja balas bertanya.

"Sang pangeran sedang jatuh cinta pada seorang gadis desa di sebelah utara negeri ini." kata Abu Nawas menjelaskan.

"Bagaimana kau tahu ?"

"Ketika nama-nama desa di seluruh negeri disebutkan tiba-tiba degup jantungnya bertambah keras ketika mendengarkan nama sebuah desa di bagian utara negeri ini dan sang pangeran tidak berani mengutarakannya kepada Baginda" jelas Abu Nawas.

"Lalu apa yang harus aku lakukan ?" tanya Raja.

"Mengawinkan pangeran dengan gadis desa itu"

"Kalau tidak ?" tawar Raja ragu-ragu.

"Cinta itu buta. Bila kita tidak berusaha mengobati kebutaannya, maka ia akan mati" kata Abu Nawas.

Rupanya saran Abu Nawas tidak bisa ditolak. Sang pangeran adalah putra satu-satunya yang merupakan pewaris tunggal kerajaan.

Abu Nawas benar.....
Begitu mendengar persetujuan sang Raja, sang pangeran berangsur-angsur pulih. Sebagai tanda terima kasih Raja memberi Abu Nawas sebuah cincin permata yang amat indah.

KISAH ABU NAWAS : MANUSIA BERTELUR

Sudah bertahun-tahun Baginda Raja Harun Al Rasyid ingin mengalahkan Abu Nawas. Namun perangkap-perangkap yang selama ini dibuat semua bisa diatasi dengan cara-cara yang cemerlang oleh Abu Nawas.
Baginda Raja tidak putus asa. Masih ada puluhan jaring muslihat untuk menjerat Abu Nawas.

Baginda Raja beserta para menteri sering mengunjungi tempat pemandian air hangat yang hanya dikunjungi para pangeran, bangsawan dan orang-orang terkenal.
Suatu sore yang cerah ketika Baginda Raja beserta para menterinya berendam di kolam, beliau berkata kepada para menteri,
"Aku punya akal untuk menjebak Abu Nawas."

"Apakah itu wahai Paduka yang mulia ?" tanya salah seorang menteri.

"Kalian tak usah tahu dulu. Aku hanya menghendaki kalian datang lebih dini besok sore. Jangan lupa datanglah besok sebelum Abu Nawas datang karena aku akan mengundangnya untuk mandi bersama-sama kita." kata Baginda Raja memberi pengarahan.

Baginda Raja memang sengaja tidak menyebutkan tipuan apa yang akan digelar besok.
Abu Nawas diundang untuk mandi bersama Baginda Raja dan para menteri di pemandian air hangat yang terkenal itu.
Seperti yang telah direncanakan, Baginda Raja dan para menteri sudah datang lebih dahulu. Baginda membawa sembilan belas butir telur ayam. Delapan belas butir dibagikan kepada para menterinya. Satu butir untuk dirinya sendiri.
Kemudian Baginda memberi pengarahan singkat tentang apa yang telah direncanakan untuk menjebak Abu Nawas.

Ketika Abu Nawas datang, Baginda Raja beserta para menteri sudah berendam di kolam. Abu Nawas melepas pakaian dan langsung ikut berendam. Abu Nawas harap-harap cemas.
Kira-kira permainan apa lagi yang akan dihadapi. Mungkin permainan kali ini lebih berat karena Baginda Raja tidak memberi tenggang waktu untuk berpikir.
Tiba-tiba Baginda Raja membuyarkan lamunan Abu Nawas.

Beliau berkata, "Hai Abu Nawas, aku mengundangmu mandi bersama karena ingin mengajak engkau ikut dalam permainan kami"

"Permainan apakah itu Paduka yang mulia ?" tanya Abu Nawas belum mengerti.

"Kita sekali-kali melakukan sesuatu yang secara alami hanya bisa dilakukan oleh binatang. Sebagai manusia kita mesti bisa dengan cara kita masing-masing." kata Baginda sambil tersenyum.

"Hamba belum mengerti Baginda yang mulia." kata Abu Nawas agak ketakutan.

"Masing-masing dari kita harus bisa bertelur seperti ayam dan barang siapa yang tidak bisa bertelur maka ia harus dihukum !" kata Baginda.

Abu Nawas tidak berkata apa-apa. Wajahnya nampak murung, ia semakin yakin dirinya tak akan bisa lolos dari lubang jebakan Baginda dengan mudah.
Melihat wajah Abu Nawas murung, wajah Baginda Raja semakin berseri-seri.

"Nah, sekarang apalagi yang kita tunggu. Kita menyelam lalu naik ke atas sambil menunjukkan telur kita masing-masing." perintah Baginda Raja.

Baginda Raja dan para menteri mulai menyelam, kemudian naik ke atas satu persatu dengan menanting sebutir telur ayam. Abu Nawas masih di dalam kolam, ia tentu saja tidak sempat mempersiapkan telur karena ia memang tidak tahu kalau ia diharuskan bertelur seperti ayam.
Kini Abu Nawas tahu kalau Baginda Raja dan para menteri telah mempersiapkan telur masing-masing satu butir. Karena belum ada seorang manusia pun yang bisa bertelur dan tidak akan pernah ada yang bisa.
Karena dadanya mulai terasa sesak. Abu Nawas cepat-cepat muncul ke permukaan kemudian naik ke atas.
Baginda Raja langsung mendekati Abu Nawas.
Abu Nawas nampak tenang, bahkan ia berlakau aneh, tiba-tiba saja ia mengeluarkan suara seperti ayam jantan berkokok, keras sekali sehingga Baginda dan para menterinya merasa heran.

"Ampun Tuanku yang mulia. Hamba tidak bisa bertelur seperti Baginda dan para menteri." kata Abu Nawas sambil membungkuk hormat.

"Kalau begitu engkau harus dihukum." kata Baginda bangga.

"Tunggu dulu wahai Tuanku yang mulia" kata Abu Nawas memohon.

"Apalagi hai Abu Nawas" kata Baginda tidak sabar.

"Paduka yang mulia, sebelumnya ijinkan hamba membela diri. Sebenarnya kalau hamba mau bertelur, hamba tentu mampu tetapi hamba merasa menjadi ayam jantan maka hamba tidak bertelur. Hanya ayam betina saja yang bisa bertelur. Kuk kuru yuuuuuk...!"mrgreen kata Abu Nawas dengan membusungkan dada.

Baginda Raja tidak bisa berkata apa-apa. Wajah Baginda dan para menteri yang semula cerah penuh kemenangan kini mendadak berubah menjadi merah padam karena malu. Sebab mereka dianggap ayam betina.
Abu Nawas memang licin, malah kini lebih licin dari pada belut.

Karena merasa malu, Baginda Raja Harun Al Rasyid dan para menteri segera berpakaian dan kembali ke istana tanpa mengucapkan sapatah kata pun.
Memang Abu Nawas yang tampaknya blo'on itu sebenarnya diakui oleh para ilmuwan sebagai ahli mantiq atau ilmu logika. Gampang saja baginya untuk membolak-balikkan dan mempermainkan kata-kata guna menjatuhkan mental lawan-lawannya....!!

KISAH ABU NAWAS : ABU NAWAS MATI

Lanjutan dari Kisah Abu Nawas yang kemarin Raja Dijadikan Budak

Baginda Raja pulang ke istana dan langsung memerintahkan para prajuritnya menangkap Abu Nawas. Tetapi Abu Nawas telah hilang entah kemana karena ia tahu sedang diburu para prajurit kerajaan.
Dan setelah ia tahu para prajurit kerajaan sudah meninggalkan rumahnya, Abu Nawas baru berani pulang ke rumah.

"Suamiku, para prajurit kerajaan tadi pagi mencarimu" kata isteri Abu Nawas.

"Ya istriku, ini urusan gawat. Aku baru saja menjual Sultan Harun Al Rasyid menjadi budak"

"Apaaa....?" tanya isterinya heran.

"Raja kujadikan budak !" jawab Abu Nawas.

"Kenapa kau lakukan itu suamiku."

"Supaya dia tahu di negerinya ada praktek jual beli budak. Dan jadi budak itu sengsara."

"Sebenarnya maksudmu baik, tapi Baginda pasti marah. Buktinya para prajurit diperintahkan untuk menangkapmu" kata isterinya kemudian.

"Menurutmu apa yang akan dilakukan Sultan Harun Al Rasyid kepadaku." tanya Abu Nawas balik.

"Pasti kau akan dihukum berat" jawab isterinya.

"Gawat, aku akan mengerahkan ilmu yang kusimpan" kata Abu Nawas.

Abu Nawas masuk ke dalam, ia mengambil air wudhu lalu mendirikan shalat dua rakaat. Lalu berpesan kepada istrinya apa yang harus dikatakan bila Baginda datang.
Tidak berapa lama kemudian tetangga Abu Nawas geger, karena istri Abu Nawas menjerit-jerit.

"Ada apa ?" tanya tetangga Abu Nawas sambil tergopoh-gopoh.

"Huuuuuu .... suamiku mati....!"

"Hah ! Abu Nawas mati ?"

"lyaaaa....!" jawab isteri Abu Nawas dengan akting yang memukau.


Kini kabar kematian Abu Nawas tersebar ke seluruh pelosok negeri.
Baginda terkejut, Kemarahan dan kegeraman beliau agak susut mengingat Abu Nawas adalah orang yang paling pintar menyenangkan dan menghibur Baginda Raja.
Baginda Raja beserta beberapa pengawai beserta seorang tabib (dokter) istana, segera menuju rumah Abu Nawas.
Tabib segera memeriksa Abu Nawas. Sesaat kemudian ia memberi laporan kepada Baginda bahwa Abu Nawas memang telah mati beberapa jam yang lalu.

Setelah melihat sendiri tubuh Abu Nawas terbujur kaku tak berdaya, Baginda Raja marasa terharu dan meneteskan air mata. Beliau bertanya kepada istri Abu Nawas.

"Adakah pesan terakhir Abu Nawas untukku ?" tanya Baginda.

"Ada Paduka yang mulia" kata istri Abu Nawas sambil menangis.

"Katakanlah" kata Baginda Raja.

"Suami hamba, Abu Nawas, memohon sudilah kiranya Baginda Raja mengampuni semua kesalahannya dunia akhirat di depan rakyat" kata istri Abu Nawas terbata-bata.

"Baiklah kalau itu permintaan Abu Nawas." kata Baginda Raja menyanggupi.


Jenazah Abu Nawas diusung di atas keranda. Kemudian Baginda Raja mengumpulkan rakyatnya di tanah lapang. Beliau berkata,
"Wahai rakyatku, dengarkanlah bahwa hari ini aku, Sultan Harun Al Rasyid telah memaafkan segala kesalahan Abu Nawas yang telah diperbuat terhadap diriku dari dunia hingga akhirat. Dan kalianlah sebagai saksinya."

Tiba-tiba dari dalam keranda yang terbungkus kain hijau terdengar suara keras,
"Syukuuuuuuuur ...... !"

Seketika pengusung jenazah ketakukan, apalagi melihat Abu Nawas bangkit berdiri seperti mayat hidup. Seketika rakyat yang berkumpul lari tunggang langgang, bertubrukan dan banyak yang jatuh terkilir. Abu Nawas sendiri segera berjalan ke hadapan Baginda. Pakaiannya yang putih-putih bikin Baginda keder juga.

"Kau... kau.... sebenarnya mayat hidup atau memang kau hidup lagi ?" tanya Baginda dengan gemetar.

"Hamba masih hidup Tuanku. Hamba mengucapkan terima kasih yang tak terhingga atas pengampunan Tuanku" kata Abu Nawas.

"Jadi kau masih hidup ?" tanya Baginda yang masih belum percaya.

"Ya, Baginda ! Segar bugar, buktinya kini hamba merasa lapar dan ingin segera pulang" jawab Abu Nawas dengan santai.

"Kurang ajar ! Ilmu apa yang kau pakai Abu Nawas ?

"Ilmu dari mahaguru sufi guru hamba yang sudah meninggal dunia...."

"Ajarkan ilmu itu kepadaku..." pinta Baginda.

"Tidak mungkin Baginda. Hanya guru hamba yang mampu melakukannya sedangkan Hamba tidak bisa mengajarkannya sendiri" kata Abu Nawas.

"Dasar pelit !" Baginda menggerutu kecewa...evilmrgreen

KISAH ABU NAWAS : Tetap Bisa Cari Solusi

KISAH ABU NAWAS : Tetap Bisa Cari Solusi - Mimpi buruk yang dialami Baginda Raja Harun Al Rasyid tadi malam menyebabkan Abu Nawas diusir dari negeri Baghdad. Abu Nawas tidak berdaya. Bagaimana pun ia harus segera menyingkir meninggalkan negeri Baghdad hanya karena mimpi.
Masih jelas terngiang-ngiang kata-kata Baginda Raja di telinga Abu Nawas.

"Tadi malam aku bermimpi bertemu dengan seorang laki-laki tua. la mengenakan jubah putih. la berkata bahwa negerinya akan ditimpa bencana bila orang yang bernama Abu Nawas masih tetap tinggal di negeri ini. la harus diusir dari negeri ini sebab orang itu membawa kesialan. ia boleh kembali ke negerinya dengan sarat tidak boleh dengan berjalan kaki, berlari, merangkak, melompat-lompat dan menunggang keledai atau binatang tunggangan yang lain."


Dengan bekal yang diperkirakan cukup Abu Nawas mulai meninggalkan rumah dan istrinya. Istri Abu Nawas hanya bisa mengiringi kepergian suaminya dengan deraian air mata.
Sudah dua hari penuh Abu Nawas mengendarai keledainya. Bekal yang dibawanya mulai menipis. Abu Nawas tidak terlalu meresapi pengusiran dirinya dengan kesedihan yang terlalu mendalam.
Sebaliknya Abu Nawas merasa bertambah yakin bahwa Tuhan Yang Maha Perkasa akan segera menolong keluar dari kesulitan yang sedang melilit pikirannya.
Bukankah tiada seorang teman pun yang lebih baik daripada Allah Subhanahu Wa Ta'ala dalam saat-saat seperti itu ?

Setelah beberapa hari Abu Nawas berada di negeri orang, ia mulai diserang rasa rindu yang menyayat-nyayat hatinya yang paling dalam. Rasa rindu itu makin lama makin menderu-deru seperti dinginnya jamharir, Sulit untuk dibendung.
Memang, tak ada jalan keluar yang lebih baik daripada berpikir tetapi dengan akal apakah ia harus melepaskan diri ?
Begitu tanya Abu Nawas dalam hati.
Apakah aku akan meminta bantuan orang lain dengan cara menggendongku dari negeri ini sampai ke istana Baginda ?
Tidak ! Tidak akan ada seorang pun yang sanggup melakukannya. Aku harus bisa menolong diriku sendiri tanpa melibatkan orang lain.


Pada hari kesembilan belas Abu Nawas menemukan cara lain yang tidak termasuk larangan Baginda Raja Harun Al Rasyid.
Setelah segala sesuatunya dipersiapkan, Abu Nawas berangkat menuju ke negerinya sendiri. Perasaan rindu dan senang menggumpal menjadi satu. Kerinduan yang selama ini melecut-lecut semakin menggila karena Abu Nawas tahu sudah semakin dekat dengan kampung halaman.

Mengetahui Abu Nawas bisa pulang kembali, penduduk negeri gembira. Desas-desus tentang kembalinya Abu Nawas segara menyebar secepat bau semerbak bunga yang menyerbu hidung.
Kabar kepulangan Abu Nawas juga sampai ke telinga Baginda Harun Al Rasyid. Baginda juga merasa gembira mendengar berita itu tetapi dengan alasan yang sama sekali berbeda. Rakyat gembira melihat Abu Nawas pulang kembali, karena mereka mencintainya.
Sedangkan Baginda Raja gembira mendengar Abu Nawas pulang kembali karena beliau merasa yakin kali ini pasti Abu Nawas tidak akan bisa mengelak dari hukuman.

Namun Baginda amat kecewa dan merasa terpukul melihat cara Abu Nawas pulang ke negerinya.
Baginda sama sekali tidak pernah membayangkan kalau Abu Nawas ternyata bergelayut di bawah perut keledai.
Sehingga Abu Nawas terlepas dari sangsi hukuman yang akan dijatuhkan karena memang tidak bisa dikatakan telah melanggar larangan Baginda Raja. Karena Abu Nawas tidak mengendarai keledai

Kisah Abu Nawas :Ibu Sejati

Kisah Abu Nawas - Ibu Sejati ini mirip dengan kejadian pada masa Nabi Sulaiman ketika masih muda.
Entah sudah berapa hari kasus seorang bayi yang diakui oleh dua orang ibu yang sama-sama ingin memiliki anak. Hakim rupanya mengalami kesulitan memutuskan dan menentukan perempuan yang mana sebenarnya yang menjadi ibu bayi itu.

Karena kasus berlarut-larut, maka terpaksa hakim menghadap Baginda Raja untuk minta bantuan.
Baginda pun turun tangan. Baginda memakai taktik rayuan. Baginda berpendapat mungkin dengan cara-cara yang amat halus salah satu, wanita itu ada yang mau mengalah. Tetapi kebijaksanaan Baginda Raja Harun Al Rasyid justru membuat kedua perempuan makin mati-matian saling mengaku bahwa bayi itu adalah anaknya. Baginda berputus asa....

Mengingat tak ada cara-cara lain lagi yang bisa diterapkan, Baginda memanggil Abu Nawas. Abu Nawas hadir menggantikan hakim.
Abu Nawas tidak mau menjatuhkan putusan pada hari itu melainkan menunda sampai hari berikutnya. Semua yang hadir yakin Abu Nawas pasti sedang mencari akal seperti yang biasa dilakukan. Padahal penundaan itu hanya disebabkan algojo tidak ada di tempat.

Keesokan hari sidang pengadilan diteruskan lagi. Abu Nawas memanggil algojo dengan pedang di tangan. Abu Nawas memerintahkan agar bayi itu diletakkan di atas meja.

"Apa yang akan kau perbuat terhadap bayi itu ?" kata kedua perempuan itu saling memandang.

Kemudian Abu Nawas melanjutkan dialog.
"Sebelum saya mengambil tindakan apakah salah satu dari kalian bersedia mengalah dan menyerahkan bayi itu kepada yang memang berhak memilikinya ?"

"Tidak, bayi itu adalah anakku" kata kedua perempuan itu serentak.

"Baiklah, kalau kalian memang sungguh-sungguh sama menginginkan bayi itu dan tidak ada yang mau mengalah maka saya terpaksa membelah bayi itu menjadi dua sama rata" kata Abu Nawas mengancam.

Perempuan pertama girang bukan kepalang, sedangkan perempuan kedua menjerit- jerit histeris.
"Jangan, tolong jangan dibelah bayi itu. Biarlah aku rela bayi itu seutuhnya diserahkan kepada perempuan itu." kata perempuan kedua.


Abu Nawas tersenyum lega. Sekarang topeng mereka sudah terbuka. Abu Nawas segera mengambil bayi itu dan langsung menyerahkan kepada perempuan kedua.
Abu Nawas minta agar perempuan pertama dihukum sesuai dengan perbuatannya. Karena tak ada ibu yang tega menyaksikan anaknya disembelih apalagi di depan mata.

Baginda Raja merasa puas terhadap keputusan Abu Nawas dan sebagai rasa terima kasih, Baginda menawari Abu Nawas menjadi penasehat hakim kerajaan. Tetapi Abu Nawas menolak, la lebih senang menjadi rakyat biasa...!!!

Demikianlah Kisah Abu Nawas - Ibu Sejati ini dan tunggu saja kisah kocak lain nya dari Abu Nawas.


Kisah Abu Nawas : Orang Kanibal

Saat itu Abu Nawas baru saja pulang dari istana setelah dipanggil Baginda. la tidak langsung pulang ke rumah melainkan berjalan-jalan lebih dahulu ke perkampungan orang-orang badui. Ini memang sudah menjadi kebiasaan Abu Nawas yang suka mempelajari adat istiadat orang-orang badui.

Pada suatu perkampungan, Abu Nawas sempat melihat sebuah rumah besar yang dari luar terdengar suara hingar bingar seperti suara kerumunan puluhan orang. Abu Nawas tertarik ingin melihat untuk apa orang-orang badui berkumpul di sana, ternyata di rumah besar itu adalah tempat orang badui menjual bubur, haris yaitu bubur khas makanan para petani.
Tapi Abu Nawas tidak segera masuk ke rumah besar itu, merasa lelah dan ingin beristirahat maka ia terus berjalan ke arah pinggiran desa.

Abu Nawas beristirahat di bawah sebatang pohon rindang. la merasa hawa di situ amat sejuk dan segar sehingga tidak berapa lama kemudian mengantuk dan tertidur di bawah pohon.
Abu Nawas tak tahu berapa lama ia tertidur, tahu-tahu ia merasa dilempar ke atas lantai tanah.
Brakkk...!
lapun tergagap bangun.
"Kurang ajar !
Siapa yang melemparku ?" tanyanya heran sembari menengok kanan kiri.

Ternyata ia berada di sebuah ruangan pengap berjeruji besi. Seperti penjara.
"Hai keluarkan aku, Kenapa aku dipenjara di sini...!" teriaknya.

Tidak berapa lama kemudian muncul seorang badui bertubuh besar. Abu Nawas memperhatikan dengan seksama, ia ingat orang inilah yang menjual bubur haris di rumah besar di tengah desa.

"Jangan teriak-teriak, cepat makan ini !" kata orang itu sembari menyodorkan piring ke lubang ruangan.

Abu Nawas tidak segera makan.
"Mengapa aku dipenjara ?" tanya Abu Nawas.

"Kau akan kami sembelih dan akan kami jadikan campuran bubur haris"

"Hah ? Jadi yang kau jual di tengah desa itu bubur manusia ?"

"Tepat....itulah makanan favorit kesukaan kami."

"Kami...? Jadi kalian sekampung suka makan daging manusia ?"

"lya, termasuk dagingmu, sebab besok pagi kau akan kami sembelih !"

"Sejak kapan kalian makan daging manusia ?" tanya Abu Nawas makin keheranan.

"Oh..,sejak lama....setidaknya sebulan sekali kami makan daging manusia."

"Dari mana saja kalian dapatkan daging manusia ?"

"Kami tidak mencari ke mana-mana, hanya setiap kali ada orang masuk atau lewat di desa kami pasti kami tangkap dan akhirnya kami sembelih untuk dijadikan bubur."


Abu Nawas diam sejenak....
la berpikir keras bagaimana caranya bisa meloloskan diri dari bahaya maut ini. la merasa heran, kenapa Baginda tidak mengetahui bahwa di wilayah kekuasaannya ada kanibalisme, ada manusia makan manusia.

"Barangkali para menteri hanya melaporkan hal yang baik-baik saja. Mereka tidak mau bekerja keras untuk memeriksa keadaan penduduk." pikir Abu Nawas.
"Baginda harus mengetahui hal seperti ini secara langsung, kalau perlu....!"

Setelah memberi makan berupa bubur, badui itu meninggalkan Abu Nawas.
Abu Nawas tentu saja tak berani makan bubur itu jangan-jangan bubur manusia. la menahan lapar semalaman tak tidur, tubuhnya yang kurus makin nampak kurus.
Esok harinya badui itu datang lagi....
"Bersiaplah sebentar lagi kau akan mati."

Abu Nawas berkata,
"Tubuhku ini kurus, kalaupun kau sembelih kau tidak akan memperoleh daging yang banyak. Kalau kau setuju nanti sore akan kubawakan temanku yang bertubuh gemuk. Dagingnya bisa kalian makan selama lima hari."

"Benarkah ?" tanya badui itu.

"Aku tidak pernah bohong !" kata Abu Nawas meyakinnya.

Orang badui itu diam sejenak, ia menatap tajam kearah Abu Nawas. Entah kenapa akhirnya orang badui itu rnempercayai dan melepaskan Abu Nawas.
Abu Nawas langsung pergi ke istana menghadap Baginda. Setelah berbasa-basi maka Baginda bertanya kepada Abu Nawas.

"Ada apa Abu Nawas ? Kau datang tanpa kupanggil ?"

"Ampun Tuanku, hamba baru saja pulang dari suatu desa yang aneh."

"Desa aneh, apa keanehannya ?" tanya Baginda ingin tahu.

"Di desa tersebut ada orang menjual bubur haris yang khas dan sangat lezat. Di samping itu hawa di desa itu benar-benar sejuk dan segar" kata Abu Nawas.

"Aku ingin berkunjung ke desa itu.
Pengawal, Siapkan pasukan !" kata Baginda.

"Ampun Tuanku, jangan membawa-bawa pengawal. Tuanku harus menyamar jadi orang biasa" bujuk Abu Nawas.

"Tapi ini demi keselamatanku sebagai seorang raja"

"Ampun Tuanku, jika bawa-bawa tentara maka orang sedesa akan ketakukan dan Tuanku takkan dapat melihat orang menjual bubur khas itu."

"Baiklah, kapan kita berangkat ?"

"Sekarang juga Tuanku, supaya nanti sore kita sudah datang di perkampungan itu."


Demikianlah, Baginda dengan menyamar sebagai seorang biasa mengikuti Abu Nawas ke perkampungan orang-orang badui kanibal.
Abu Nawas mengajak Baginda masuk ke rumah besar tempat orang-orang makan bubur. Di sana mereka membeli bubur. Baginda memakan bubur itu dengan lahapnya.

"Betul katamu, bubur ini memang lezat !" kata Baginda setelah makan.
"Kenapa buburmu tidak kau makan Abu Nawas."

"Hamba masih kenyang," kata Abu Nawas sambil melirik dan berkedip ke arah penjual bubur.

Setelah makan, Baginda diajak ke tempat pohon rindang yang hawanya sejuk.
"Betul juga katamu, di sini hawanya memang sejuk dan segar.
ahhhhh........
aku kok mengantuk sekali" kata Baginda.

"Tunggu Tuanku, jangan tidur dulu....hamba pamit mau buang air kecil di semar belukar sana" kata Abu Nawas.

"Baik, pergilah Abu Nawas !" kata Baginda mempersilahkan.

Baru saja Abu Nawas melangkah pergi, Baginda sudah tertidur, tapi ia segera terbangun lagi ketika mendengar suara bentakan keras.

"Hai orang gendut, cepat bangun !
Atau kau kami sembelih di tempat ini !"

Ternyata badui penjual bubur sudah berada di belakang Baginda dan menghunus pedang di arahkan ke leher Baginda.
"Apa-apaan ini !" protes Baginda.

"Jangan banyak cakap, cepat jalan !" kata badui itu.

Baginda mengikuti perintah orang badui itu dan akhirnya dimasukkan ke dalam penjara.
"Mengapa aku di penjara ?" tanya Baginda.

"Besok kau akan kami sembelih, dagingmu kami campur dengan tepung gandum dan jadilah bubur haris yang terkenal lezat.

"Haahhh, Astaqfirullah jadi yang kumakan tadi...?"

"Betul kau telah memakan bubur kami, bubur manusia."

"Hoekkkkk....!"
Baginda mau muntah tapi tak bisa.

"Sekarang tidurlah, berdoalah, sebab besok kau akan mati."

"Tunggu...." kata Baginda.

"Mau apa lagi ?" tanya si badui.

"Berapa penghasilanmu sehari dari menjual bubur itu ?"

"Lima puluh dirham !"

"Cuma segitu ?"

"lya !"

"Aku bisa memberimu lima ratus dirham hanya dengan menjual topi" kata Baginda.

"Ah, masak ?"

"Sekarang berikan aku bahan kain untuk membuat topi. Besok pagi boleh kalian coba menjual topi buatanku itu ke pasar. Hasilnya boleh kau miliki semua !"

Badui itu ragu, ia berbalik melangkah pergi. Tak lama kemudian kembali lagi dengan bahan-bahan untuk membuat topi.
Esok paginya Baginda menyerahkan sebuah topi yang bagus kepada si badui. Baginda berpesan,
"Juallah topi ini kepada menteri Farhan di istana Baghdad."

Badui itu menuruti saran Baginda. Menteri Farhan terkejut saat melihat seorang badui datang menemuinya.
"Mau apa kau ?" tanya Farhan.

"Menjual topi ini..." jawab si badui.

Farhan melirik, topi itu memang bagus. la mencoba memeriksanya dan alangkah terkejutnya ketika melihat hiasan berupa huruf-huruf yang maknanya adalah surat dari Baginda yang ditujukan kepada dirinya.

"Berapa harga topi ini ?" tanya Farhan.

"Lima ratus dirham tak boleh kurang !"

"Baik aku beli !"

Badui itu langsung pulang dengan wajah ceria. Sama sekali ia tak tahu jika Farhan telah mengutus seorang prajurit untuk mengikuti langkahnya.
Siangnya prajurit itu datang lagi ke istana dengan melaporkan lokasi perkampungan si penjual bubur. Farhan cepat bertidak sesuai pesan di surat Baginda.

Seribu orang tentara bersenjata lengkap dibawa ke perkampungan. Semua orang badui di kampung itu ditangkapi sementara Baginda berhasil diselamatkan.
"Untung kau bertindak cepat, terlambat sedikit saja aku sudah jadi bubur !" kata Baginda kepada Farhan.

"Semua ini gara-gara Abu Nawas !" kata Farhan.

"Benar ! Tapi juga salahmu, kau tak pernah memeriksa perkampungan ini bahwa penghuninya adalah orang-orang kanibal !" kata Baginda.

"Bagaimanapun Abu Nawas harus dihukum !"

"Ya, itu pasti !"

"Hukuman mati !" sahut Farhan.

"Hukuman mati ? Ya, kita coba apakah dia bisa meloloskan diri...." sahut Baginda.

KISAH ABU NAWAS : Menipu Tuhan

Abu Nawas sebenarnya adalah seorang ulama yang alim. Tak begitu mengherankan jika Abu Nawas mempunyai murid yang tidak sedikit.
Diantara sekian banyak muridnya, ada satu orang yang hampir selalu menanyakan mengapa Abu Nawas mengatakan begini dan begitu.

Suatu ketika ada tiga orang tamu bertanya kepada Abu Nawas dengan pertanyaan yang sama.
Orang pertama mulai bertanya,

"Manakah yang lebih utama, orang yang mengerjakan dosa-dosa besar atau orang yang mengerjakan dosa-dosa kecil ?"

"Orang yang mengerjakan dosa-dosa kecil" jawab Abu Nawas.

"Mengapa ?" kata orang pertama.

"Sebab lebih mudah diampuni oleh Tuhan" kata Abu Nawas.

Orang pertama puas karena ia memang yakin begitu.


Orang kedua bertanya dengan pertanyaan yang sama.
"Manakah yang lebih utama, orang yang mengerjakan dosa-dosa besar atau orang yang mengerjakan dosa-dosa kecil ?"

"Orang yang tidak mengerjakan keduanya" jawab Abu Nawas.

"Mengapa ?" kata orang kedua.

"Dengan tidak mengerjakan keduanya, tentu tidak memerlukan pengampunan dari Tuhan" kata Abu Nawas.

Orang kedua langsung bisa mencerna jawaban Abu Nawas.


Orang ketiga juga bertanya dengan pertanyaan yang sama.
"Manakah yang iebih utama, orang yang mengerjakan dosa-dosa besar atau orang yang mengerjakan dosa-dosa kecil ?"

"Orang yang mengerjakan dosa-dosa besar" jawab Abu Nawas.

"Mengapa ?" kata orang ketiga.

"Sebab pengampunan Allah kepada hambaNya sebanding dengan besarnya dosa hamba itu" jawab Abu Nawas.

Orang ketiga menerima alasan Abu Nawas. Kemudian ketiga orang itu pulang dengan perasaan puas.

Karena belum mengerti seorang murid Abu Nawas bertanya,
"Mengapa dengan pertanyaan yang sama bisa menghasilkan jawaban yang berbeda ?"

"Manusia dibagi tiga tingkatan : Tingkatan mata, tingkatan otak dan tingkatan hati" jawab Abu Nawas.

"Apakah tingkatan mata itu ?" tanya murid Abu Nawas.

"Anak kecil yang melihat bintang di langit. la mengatakan bintang itu kecil karena ia hanya menggunakan mata" jawab Abu Nawas mengandaikan.

"Apakah tingkatan otak itu ?" tanya murid Abu Nawas.

"Orang pandai yang melihat bintang di langit. la mengatakan bintang itu besar karena ia berpengetahuan" jawab Abu Nawas.

"Lalu apakah tingkatan hati itu ?" tanya murid Abu Nawas.

"Orang pandai dan mengerti yang melihat bintang di langit. la tetap mengatakan bintang itu kecil walaupun ia tahu bintang itu besar. Karena bagi orang yang mengerti tidak ada sesuatu apapun yang besar jika dibandingkan dengan KeMaha-Besaran Allah" Jawab Abu Nawas menerangkan.


Kini murid Abu Nawas mulai mengerti mengapa pertanyaan yang sama bisa menghasilkan jawaban yang berbeda. la bertanya lagi.
"Wahai guru, mungkinkah manusia bisa menipu Tuhan ?"

"Mungkin" jawab Abu Nawas.

"Bagaimana caranya ?" tanya murid Abu Nawas ingin tahu.

"Dengan merayuNya melalui pujian dan doa" kata Abu Nawas.

"Ajarkanlah doa itu padaku wahai guru" pinta murid Abu Nawas.

"Doa itu adalah : llahi lastu lil firdausi ahla, wala aqwa'alan naril jahimi, fahabli taubatan waghfir dzunubi, fa innaka ghafiruz dzanbil 'adhimi."

Sedangkan arti doa itu adalah : Wahai Tuhanku, aku ini tidak pantas menjadi penghuni surga, tetapi aku tidak akan kuat terhadap panasnya api neraka. Oleh sebab itu terimalah tobatku serta ampunilah dosa-dosaku. Karena sesungguhnya Engkaulah Dzat yang mengampuni dosa-dosa besar.

Jumat, 26 April 2013

Abu Nawas Akan Dihukum Pancung : KISAH ABU NAWAS

Cita-cita atau obsesi menghukum Abu Nawas sebenarnya masih bergolak, namun Baginda merasa kehabisan akal untuk menjebak Abu Nawas.

Seorang penasihat kerajaan kepercayaan Baginda Raja menyarankan agar Baginda memanggil seorang ilmuwan-ulama yang berilmu tinggi untuk menandingi Abu Nawas. Pasti masih ada peluang untuk mencari kelemahan Abu Nawas.
Menjebak pencuri harus dengan pencuri, dan ulama dengan ulama. Baginda menerima usul yang cemerlang itu dengan hati bulat.

Setelah ulama yang berilmu tinggi berhasil ditemukan, Baginda Raja menanyakan cara terbaik menjerat Abu Nawas. Ulama itu memberi tahu cara-cara yang paling jitu kepada Baginda Raja.
Baginda Raja manggut-manggut setuju. Wajah Baginda tidak lagi murung apalagi ulama itu menegaskan bahwa ramalan Abu Nawas tentang takdir kematian Baginda Raja sama sekali tidak mempunyai dasar yang kuat. Tiada seorang pun manusia yang tahu kapan dan di bumi mana ia akan mati apalagi tentang ajal orang lain.

Ulama andalan Baginda Raja mulai mengadakan persiapan seperlunya untuk memberikan pukulan fatal bagi Abu Nawas. Siasat pun dijalankan sesuai rencana.
Abu Nawas terjerembab ke pangkuan siasat sang ulama. Abu Nawas melakukan kesalahan yang bisa menghantarnya ke tiang gantungan atau tempat pemancungan.

Benarlah peribahasa yang berbunyi sepandai-pandai tupai melompat pasti suatu saat akan terpeleset.
Kini, Abu Nawas benar-benar mati kutu. Sebentar lagi ia akan dihukum mati karena jebakan sang ilmuwan-ulama.

Benarkah Abu Nawas sudah keok ?
Kita lihat saja nanti.....

Banyak orang yang merasa simpati atas nasib Abu Nawas, terutama orang-orang miskin dan tertindas yang pernah ditolongnya. Namun derai air mata para pecinta dan pengagum Abu Nawas tak akan mampu menghentikan hukuman mati yang akan dijatuhkan.

Baginda Raja Harun Al Rasyid benar-benar menikmati kemenangannya. Belum pernah Baginda terlihat seriang sekarang....
Keyakinan orang banyak bertambah mantap. Hanya satu orang yang tetap tidak yakin bahwa hidup Abu Nawas akan berakhir setragis itu, yaitu istri Abu Nawas.
Bukankah Alla Azza Wa Jalla lebih dekat daripada urat leher ?
Tidak ada yang tidak mungkin bagi Allah Yang Maha Gagah dan kematian adalah mutlak urusan-Nya. Semakin dekat hukuman mati bagi Abu Nawas; orang banyak semakin resah. Tetapi bagi Abu Nawas malah sebaliknya, Semakin dekat hukuman bagi dirinya, semakin tenang hatinya.


Baginda Raja tahu bahwa ketenangan yang ditampilkan Abu Nawas hanyalah merupakan bagian dari tipu dayanya tetapi Baginda Raja telah bersumpah pada diri sendiri bahwa beliau tidak akan terkecoh untuk kedua kalinya.
Sebaliknya Abu Nawas juga yakin, selama nyawa masih melekat maka harapan akan terus menyertainya. Tuhan tidak mungkin menciptakan alam semesta ini tanpa ditaburi harapan-harapan yang menjanjikan. Bahkan dalam keadaan yang bagaimanapun gentingnya.

Keyakinan seperti inilah yang tidak dimiliki oleh Baginda Raja dan ulama itu. Seketika suasana menjadi hening, sewaktu Baginda Raja memberi sambutan singkat tentang akan dilaksanakan hukuman mati atas diri terpidana mati Abu Nawas.
Kemudian tanpa memperpanjang waktu lagi Baginda Raja menanyakan permintaan terakhir Abu Nawas. Dan pertanyaan inilah yang paling dinanti-nantikan Abu Nawas.

"Adakah permintaan yang terakhir" tanya Baginda.

"Ada Paduka yang mulia" jawab Abu Nawas singkat.

"Sebutkan" kata Baginda.
"
"Sudilah kiranya hamba diperkenankan memilih hukuman mati yang hamba anggap cocok wahai Baginda yang mulia" pinta Abu Nawas.
"
""Baiklah" kata Baginda menyetujui permintaan Abu Nawas.

"Paduka yang mulia, yang hamba pinta adalah bila pilihan hamba benar hamba bersedia dihukum pancung, tetapi jika pilihan hamba dianggap salah maka hamba dihukum gantung saja" kata Abu Nawas memohon.

"Engkau memang orang yang aneh. Dalam saat-saat yang amat genting pun engkau masih sempat bersenda gurau. Tetapi ketahuilah bagiku segala tipu muslihatmu hari ini tak akan bisa membawamu kemana-mana" kata Baginda sambil tertawa.

"Hamba tidak bersenda gurau Paduka yang mulia" kata Abu Nawas bersungguh-sungguh.

Baginda makin terpingkal-pingkal. Belum selesai Baginda Raja tertawa-tawa, Abu Nawas berteriak dengan nyaring.
"Hamba minta dihukum pancung....!"

Semua yang hadir kaget. Orang banyak belum mengerti mengapa Abu Nawas membuat keputusan begitu. Tetapi kecerdasan otak Baginda Raja menangkap sesuatu yang lain. Sehingga tawa Baginda yang semula berderai-derai mendadak terhenti. Kening Baginda berkenyit mendengar ucapan Abu Nawas.
Baginda Raja tidak berani menarik kata-katanya karena disaksikan oleh ribuan rakyatnya.

Beliau sudah terlanjur mengabulkan Abu Nawas menentukan hukuman mati yang paling cocok untuk dirinya. Kini kesempatan Abu Nawas membela diri.

"Baginda yang mulia, hamba tadi mengatakan bahwa hamba akan dihukum pancung. Kalau pilihan hamba benar maka hamba dihukum gantung. Tetapi di manakah letak kesalahan pilihan hamba sehingga hamba harus dihukum gantung. Padahal hamba telah memilih hukuman pancung ?" Olah kata Abu Nawas memaksa Baginda Raja dan ulama itu tercengang.

Benar-benar luar biasa otak Abu Nawas ini. Rasanya tidak ada lagi manusia pintar selain Abu Nawas di negeri Baghdad ini....

"Abu Nawas aku mengampunimu, tapi sekarang jawablah pertanyaanku ini.
Berapa banyakkah bintang di langit ?" kata Baginda.

"Oh, gampang sekali Tuanku."

"lya, tapi berapa, seratus juta, seratus milyar ?" tanya Baginda.

"Bukan Tuanku, cuma sebanyak pasir di pantai." jawab Abu Nawas.

"Kau ini....bagaimana bisa orang menghitung pasir di pantai ?"

"Bagaimana pula orang bisa menghitung bintang di langit ?"

"Hahahahaha...! Kau memang penggeli hati.
Kau adalah pelipur laraku. Abu Nawas mulai sekarang jangan segan-segan, sering-seringlah datang ke istanaku. Aku ingin selalu mendengar lelucon-leluconmu yang baru !" kata Baginda.

Kisah Abu Nawas : Mencangkul Dalam Penjara


Karena dianggap hampir membunuh Baginda maka Abu Nawas mendapat celaka. Dengan kekuasaan yang absolut, Baginda memerintahkan prajurit-prajuritnya langsung menangkap dan menyeret Abu Nawas untuk dijebloskan ke penjara.

Waktu itu Abu Nawas sedang bekerja di ladang karena musim tanam kentang akan tiba. Ketika para prajurit kerajaan tiba, ia sedang mencangkul dan tanpa alasan yang jelas mereka langsung menyeret Abu Nawas sesuai dengan titah Baginda.
Abu Nawas tidak berkutik. Kini ia mendekam di dalam penjara.

Beberapa hari lagi kentang-kentang itu harus ditanam. Sedangkan istrinya tidak cukup kuat untuk melakukan pencangkulan.
Abu Nawas tahu bahwa tetangga-tetangganya tidak akan bersedia membantu istrinya sebab mereka juga sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing.
Tidak ada yang bisa dilakukan di dalam penjara kecuali mencari jalan keluar.

Seperti biasa Abu Nawas tidak bisa tidur dan tidak enak makan. Ia hanya makan sedikit.
Sudah dua hari ia meringkuk di dalam penjara. Wajahnya murung.
Hari ketiga Abu Nawas memanggil seorang pengawal.
"Bisakah aku minta tolong kepadamu ?" kata Abu Nawas membuka pembicaraan.

"Apa itu ?" kata pengawal itu tanpa gairah.

"Aku ingin pinjam pensil dan selembar kertas. Aku ingin menulis surat untuk istriku, aku harus menyampaikan sebuah rahasia penting yang hanya boleh diketahui oleh istriku saja" kata Abu Nawas.

Pengawal itu berpikir sejenak lalu pergi meninggalkan Abu Nawas....
Ternyata pengawal itu menghadap Baginda Raja untuk melapor. Mendengar laporan dari pengawal, Baginda segera menyediakan apa yang diminta Abu Nawas.
Dalam hati, Baginda bergumam mungkin kali ini ia bisa mengalahkan Abu Nawas.

Abu Nawas menulis surat yang berbunyi :
"Wahai istriku, janganlah engkau sekali-kali menggali ladang kita karena aku menyembunyikan harta karun dan senjata di situ. Dan tolong jangan bercerita kepada siapa pun."

Tentu saja surat itu dibaca oleh Baginda karena beliau ingin tahu apa sebenamya rahasia Abu Nawas.
Setelah membaca surat itu Baginda merasa puas dan langsung memerintahkan beberapa pekerja istana untuk menggali ladang Abu Nawas.
Dengan peralatan yang dibutuhkan mereka berangkat dan langsung menggali ladang Abu Nawas....

Istri Abu Nawas merasa heran....
Mungkinkah suaminya minta tolong pada mereka ???
Pertanyaan itu tidak terjawab karena mereka kembali ke istana tanpa pamit.
Mereka hanya menyerahkan surat Abu Nawas kepadanya.

Lima hari kemudian Abu Nawas menerima surat dari istrinya. Surat itu berbunyi :
"Mungkin suratmu dibaca sebelum diserahkan kepadaku. Karena beberapa pekerja istana datang ke sini dua hari yang lalu, mereka menggali seluruh ladang kita. Lalu apa yang harus kukerjakan sekarang ?"

Rupanya istrinya Abu Nawas belum mengerti muslihat suaminya. Tetapi dengan bijaksana Abu Nawas membalas :
"Sekarang engkau bisa menanam kentang di ladang tanpa harus menggali, wahai istriku."

Kali ini Baginda tidak bersedia membaca surat Abu Nawas lagi. Baginda makin mengakui keluarbiasaan akal Abu Nawas. Bahkan di dalam penjara pun Abu Nawas masih bisa melakukan pencangkulan.

Kisah Abu Nawas : Taruhan Berbahaya

Pada suatu sore ketika Abu Nawas ke warung teh, kawan-kawannya sudah berada di situ. Mereka memang sengaja sedang menunggu Abu Nawas.
"Nah ini Abu Nawas datang" kata salah seorang dari mereka.

"Ada apa?" kata Abu Nawas sambil memesan secangkir teh hangat.

"Kami tahu engkau selalu bisa melepaskan diri dari perangkap-perangkap yang dirancang Baginda Raja Harun Al Rasyid. Tetapi kami yakin kali ini engkau pasti dihukum Baginda Raja bila engkau berani melakukannya" kawan-kawan Abu Nawas membuka percakapan.

"Apa yang harus kutakutkan. Tidak ada sesuatu apapun yang perlu ditakuti kecuali kepada Allah Subhanahu wa ta'ala" kata Abu Nawas menentang.

"Selama ini belum pernah ada seorang pun di negeri ini yang berani memantati Baginda Raja Harun Al Rasyid. Bukankah begitu hai Abu Nawas ?" tanya kawan Abu Nawas.

"Tentu saja tidak ada yang berani melakukan hal itu karena itu adalah pelecehan yang amat berat hukumannya pasti dipancung" kata Abu Nawas memberitahu.

"Itulah yang ingin kami ketahui darimu. Beranikah engkau melakukannya ?" kata kawan Abu Nawas.

"Sudah kukatakan bahwa aku hanya takut kepada Allah saja. Sekarang apa taruhannya bila aku bersedia melakukannya ?" Abu Nawas ganti bertanya.

"Seratus keping uang emas, disamping itu Baginda harus tertawa tatkala engkau pantati." kata mereka.


Abu Nawas pulang setelah menyanggupi tawaran yang amat berbahaya itu. Kawan-kawan Abu Nawas tidak yakin Abu Nawas sanggup membuat Baginda Raja tertawa apalagi ketika dipantati.
Kayaknya kali ini Abu Nawas harus berhadapan dengan algojo pemenggal kepala.

Minggu depan Baginda Raja Harun Al Rasyid akan mengadakan jamuan kenegaraan. Para menteri, pegawai istana dan orang-orang dekat Baginda diundang, termasuk Abu Nawas.
Abu Nawas merasa hari-hari berlalu dengan cepat karena ia harus menciptakan jalan keluar yang paling aman bagi keselamatan lehernya dari pedang algojo. Tetapi bagi kawan-kawan Abu Nawas hari-hari terasa amat panjang karena mereka tak sabar menunggu pertaruhan yang amat mendebarkan itu.

Persiapan-persiapan di halaman istana sudah dimulai. Baginda Raja menginginkan perjamuan nanti meriah karena Baginda juga mengundang raja-raja dari negeri sahabat.
Ketika hari yang dijanjikan tiba, semua tamu sudah datang kecuali Abu Nawas.
Kawan-kawan Abu Nawas yang menyaksikan dari jauh merasa kecewa karena Abu Nawas tidak hadir.
Namun temyata mereka keliru, Abu Nawas bukannya tidak datang tetapi terlambat sehingga Abu Nawas duduk di tempat yang paling belakang.

Ceramah-ceramah yang mengesankan mulai disampaikan oleh para ahli pidato. Dan tibalah giliran Baginda Raja Harun Al Rasyid menyampaikan pidatonya.
Seusai menyampaikan pidato Baginda melihat Abu Nawas duduk sendirian di tempat yang tidak ada karpetnya. Karena merasa heran Baginda bertanya,

"Mengapa engkau tidak duduk di atas karpet ?" tanya Baginda keheranan.

"Paduka yang mulia, hamba haturkan terima kasih atas perhatian Baginda. Hamba sudah merasa cukup bahagia duduk di sini" kata Abu Nawas.

"Wahai Abu Nawas, majulah dan duduklah di atas karpet nanti pakaianmu kotor karena duduk di atas tanah" Baginda Raja menyarankan.

"Ampun Tuanku yang mulia, sebenarnya hamba ini sudah duduk di atas karpet" kata Abu Nawas.

Baginda bingung mendengar pengakuan Abu Nawas. Karena Baginda melihat sendiri Abu Nawas duduk di atas lantai.

"Karpet yang mana yang engkau maksudkan wahai Abu Nawas ?" tanya Baginda masih bingung.

"Karpet hamba sendiri Tuanku yang mulia. Sekarang hamba selalu membawa karpet ke manapun hamba pergi." Kata Abu Nawas seolah-olah menyimpan misteri.

"Tetapi sejak tadi aku belum melihat karpet yang engkau bawa" kata Baginda Raja bertambah bingung.

"Baiklah Baginda yang mulia, kalau memang ingin tahu maka dengan senang hati hamba akan menunjukkan kepada Paduka yang mulia" kata Abu Nawas sambil beringsut-ringsut ke depan.

Setelah cukup dekat dengan Baginda, Abu Nawas berdiri kemudian menungging menunjukkan potongan karpet yang ditempelkan di bagian pantatnya.
Abu Nawas kini seolah-olah memantati Baginda Raja Harun Al Rasyid. Melihat ada sepotong karpet menempel di pantat Abu Nawas, Baginda Raja tak bisa membendung tawa sehingga beliau terpingkal-pingkal diikuti oleh para undangan.

Menyaksikan kejadian yang menggelikan itu kawan-kawan Abu Nawas merasa kagum. Mereka harus rela melepas seratus keping uang emas untuk Abu Nawas...mrgreen gkgkgkgk

Hebat ya Abu Nawas bisa mempatati sang Baginda dan menang taruhan lagi.
Demikianlah posting kali ini tentang Kisah Abu Nawas Taruhan Berbahaya, untuk mengetahui kisah Abu Nawas yang paling lengkap, masuk saja KESINI, dijamin akan tertawa sendiri membaca nya.

Kisah Abu Nawas :Strategi Maling

Tanpa pikir panjang Abu Nawas memutuskan untuk menjual keledai kesayangannya. Keledai itu merupakan kendaraan Abu Nawas satu-satunya.
Sebenarnya ia tidak tega untuk menjualnya tetapi keluarga Abu Nawas amat membutuhkan uang dan istrinya setuju.

Keesokan harinya Abu Nawas membawa keledai ke pasar. Abu Nawas tidak tahu kalau ada sekelompok pencuri yang terdiri dari empat orang telah mengetahui keadaan dan rencana Abu Nawas.
Mereka sepakat akan memperdaya Abu Nawas. Rencana pun mulai mereka susun......

Ketika Abu Nawas beristirahat di bawah pohon, salah seorang mendekat dan berkata,
"Apakah engkau akan menjual kambingmu ?"

Tentu saja Abu Nawas terperanjat mendengar pertanyaan yang begitu tiba-tiba,
"Ini bukan kambing" kata Abu Nawas."

Kalau bukan kambing, lalu apa ?" tanya pencuri itu selanjutnya.

"Keledai" kata Abu Nawas.

"Kalau engkau yakin itu keledai, jual saja ke pasar dan tanyakan pada mereka" kata komplotan pencuri itu sambil berlalu.

Abu Nawas tidak terpengaruh. Kemudian ia meneruskan perjalanannya. Ketika Abu Nawas sedang menunggang keledai, pencuri kedua menghampirinya dan berkata,

"Mengapa kau menunggang kambing" kata pencuri kedua.

"Ini bukan kambing tapi keledai"

"Kalau itu keledai aku tidak bertanya seperti itu, dasar orang aneh, kambing kok dikatakan keledai"

"Kalau ini kambing aku tidak akan menungganginya" jawab Abu Nawas tanpa ragu.

"Kalau engkau tidak percaya, pergilah ke pasar dan tanyakan pada orang-orang di sana" kata pencuri kedua sambil berlalu.


Abu Nawas belum terpengaruh dan ia tetap berjalan menuju pasar. Pencuri ketiga datang menghampiri Abu Nawas,
"Hai Abu Nawas akan kau bawa ke mana kambing itu ?"

Kali ini Abu Nawas tidak segera menjawab. la mulai ragu, sudah tiga orang mengatakan kalau hewan yang dibawanya adalah kambing.

Pencuri ketiga tidak menyia-nyiakan kesempatan. la makin merecoki otak Abu Nawas, "Sudahlah, biarpun kau bersikeras hewan itu adalah keledai nyatanya itu adalah kambing, kambing.......kambiiiiiing !"

Abu Nawas berhenti sejenak untuk beristirahat di bawah pohon.
Pencuri keempat melaksanakan strategi busuknya. la duduk di samping Abu Nawas dan mengajak tokoh cerdik ini untuk berbincang-bincang.

"Ahaa, bagus sekali kambingmu ini...!" pencuri keempat membuka percakapan.

"Kau juga yakin ini kambing ?" tanya Abu Nawas.

"Lho ? ya jelas sekali kalau hewan ini adalah kambing. Kalau boleh aku ingin membelinya"

"Berapa kau mau membayarnya ?" tanya Abu Nawas.

"Tiga dirham !" jawab pencuri itu.

Abu Nawas pun setuju. Setelah menerima uang dari pencuri keempat kemudian Abu Nawas langsung pulang.
Setiba di rumah Abu Nawas dimarahi istrinya.
"Jadi keledai itu hanya engkau jual tiga dirham lantaran mereka mengatakan bahwa keledai itu kambing ?"

Abu Nawas tidak bisa menjawab. la hanya mendengarkan ocehan istrinya dengan setia sambil menahan rasa dongkol. Kini ia baru menyadari kalau sudah diperdayai oleh komplotan pencuri yang menggoyahkan akal sehatnya.

Abu Nawas merencanakan sesuatu.....
la pergi ke hutan mencari sebatang kayu untuk dijadikan sebuah tongkat yang nantinya bisa menghasilkan uang....

Rencana Abu Nawas ternyata berjalan lancar. Hampir semua orang membicarakan keajaiban tongkat Abu Nawas. Berita ini juga terdengar oleh para pencuri yang telah menipu Abu Nawas. Mereka langsung tertarik bahkan mereka melihat sendiri ketika Abu Nawas membeli barang atau makan tanpa membayar tetapi hanya dengan mengacungkan tongkatnya. Mereka berpikir kalau tongkat itu bisa dibeli maka tentu mereka akan kaya karena hanya dengan mengacungkan tongkat itu mereka akan mendapatkan apa yang mereka inginkan.

Akhirnya mereka mendekati Abu Nawas dan berkata,
"Apakah tongkatmu akan dijual ?"

"Tidak" jawab Abu Nawas dengan cuek.

"Tetapi kami bersedia membeli dengan harga yang amat tinggi" kata mereka.

"Berapa ?" kata Abu Nawas pura-pura merasa tertarik.

"Seratus dinar uang emas" kata mereka tanpa ragu-ragu.

"Tetapi tongkat ini adalah tongkat wasiat satu-satunya yang aku miliki" kata Abu Nawas sambil tetap berpura- pura tidak ingin menjual tongkatnya.

"Dengan uang seratus dinar engkau sudah bisa hidup enak" Kata mereka makin penasaran.

Abu Nawas diam beberapa saat sepertinya merasa keberatan sekali.
"Baiklah kalau begitu" kata Abu Nawas kemudian sambil menyerahkan tongkatnya.


Setelah menerima seratus dinar uang emas Abu Nawas segera melesat pulang. Para pencuri itu segera mencari warung terdekat untuk membuktikan keajaiban tongkat yang baru mereka beli.
Seusai makan mereka mengacungkan tongkat itu kepada pemilik kedai. Tentu saja pemilik kedai marah,

"Apa maksudmu mengacungkan tongkat itu padaku ?"

"Bukankah Abu Nawas juga mengacungkan tongkat ini dan engkau membebaskannya ?" tanya para pencuri itu.

"Benar....Tetapi engkau harus tahu bahwa Abu Nawas menitipkan sejumlah uang kepadaku sebelum makan di sini !"

"Gilaaaa ! Ternyata kita tidak mendapat keuntungan sama sekali menipu Abu Nawas malahan Kita rugi besar" umpat para pencuri dengan rasa dongkol.

Kisah Abu Nawas :Cara Memilih Jalan

Kali ini akan menceritakan tentang cara Abu Nawas memilih jalan. Kisahnya.....

Kawan-kawan Abu Nawas merencanakan akan mengadakan perjalanan wisata ke hutan. Akan tetapi dengan tanpa keikutsertaan Abunawas, perjalanan akan terasa memenatkan dan membosankan.
Sehingga mereka beramai-ramai pergi ke rumah Abu Nawas untuk mengajaknya ikut serta. Abu Nawas pun tidak keberatan, hingga mereka berangkat dengan mengendarai keledai masing-masing sambil bercengkrama.

Tiada terasa mereka telah menempuh hampir separuh perjalanan dan kini mereka tiba di pertigaan jalan yang jauh dari perumahan penduduk.
Mereka berhenti karena mereka ragu-ragu kemana jalan yang akan ditempuh.
Setahu mereka, kedua jalan itu memang menuju ke hutan tetapi hutan yang mereka tuju adalah hutan wisata yang berisi binatang-binatang buas. Abu Nawas hanya bisa menyarankan untuk tidak meneruskan perjalanan karena bila salah pilih maka mereka semua tak akan pernah bisa kembali.

Bukankah lebih bijaksana bila kita meninggalkan sesuatu yang meragukan ?
Tetapi salah seorang dari mereka tiba-tiba berkata,
"Aku mempunyai dua orang sahabat yang tinggal dekat semak-semak sebelah sana.Mereka adalah saudara kembar dan tak seorang pun bisa membedakan keduanya karena rupa mereka begitu mirip. Yang satu selalu berkata jujur, sedangkan yang lainnya selalu berkata bohong.
Dan mereka adalah orang-orang aneh karena mereka hanya mau menjawab satu pertanyaan saja."

"Apakah engkau mengenali salah satu dari mereka yang selalu berkata benar ?" tanya Abu Nawas.

"Tidak," jawab kawan Abu Nawas singkat.

"Baiklah kalau begitu kita beristirahat sejenak," sambung Abu Nawas.

Abu Nawas makan daging dengan madu bersama sahabat-sahabatnya. Seusai makan mereka berangkat menuju ke rumah yang dihuni dua orang kembar bersaudara.
Setelah pintu dibuka, maka keluarlah salah seorang dari dua orang kembar bersaudara itu.

"Maaf, aku sangat sibuk hari ini. Engkau hanya boleh mengajukan satu pertanyaan saja, tidak boleh lebih," katanya.

Kemudian Abunawas menghampiri orang itu dan berbisik. Orang itu pun juga menjawab dengan cara berbisik pula kepada Abu Nawas.
Abu Nawas mengucapkan terima kasih dan segera mohon diri.

"Hutan yang kita tuju melewati jalan sebelah kanan," kata Abu Nawas kepada sahabatnya.

"Bagaimana engkau tahu bisa memutuskan harus menempuh jalan sebelah kanan Sedangkan kita tidak tahu apakah orang yang kita tanya itu orang yang selalu berkata benar atau yang selalu berkata bohong" tanya salah seorang dari mereka.

"Karena orang yang kutanya menunjukkan jalan yang sebelah kiri," kata Abu Nawas.

Karena masih belum mengerti juga, maka Abu Nawas menjelaskan.
Tadi aku bertanya :
Apakah yang akan dikatakan saudaramu bila aku bertanya jalan mana yang menuju hutan yang indah ?"

Bila jalan yang benar itu sebelah kanan dan bila orang itu kebetulan yang selalu berkata benar maka ia akan menjawab,
"Jalan sebelah kiri, karena ia tahu saudara kembarnya akan mengatakan jalan sebelah kiri sebab saudara kembarnya selalu berbohong."
Bila orang itu kebetulan yang selalu berkata bohong, maka ia akan menjawab : "Jalan sebelah kiri, karena ia tahu saudara kembarnya akan mengatakan jalan sebelah kiri sebab saudara kembarnya selalu berkata benar"

Abu Nawas Sang Penggeli Hati

Abu Nawas Sang Penggeli Hati - Nama Abu Nawas begitu populernya sehingga cerita-cerita yang mengandung humor , banyak yang dinisbatkan berasal dari Abu Nawas .
Tokoh semacam Abu Nawas yang mampu mengatasi berbagai persoalan rumit dengan style humor atau bahkan humor politis ternyata juga tidak hanya ada di negeri Baghdad saja . Kita mengenal Syekh Juha yang hampir sama piawainya dengan Abu Nawas dan juga Nasaruddin Hoja sang sufi yang lucu namun cerdas .

Abu Nawas , setelah mati pun masih bisa membuat orang tertawa . Di depan makamnya ada pintu gerbang yang terkunci dengan gembok besar sekali namun di kanan kiri pintu gerbang itu pagarnya bolong sehingga orang bisa leluasa masuk untuk berziarah ke makamnya .
Apa maksud dia berbuat demikian ?
Mungkin itu adalah simbol watak Abu Nawas yang sepertinya tertutup namun sebenarnya terbuka , ada sesuatu yang misteri pada diri Abu Nawas . Dia sepertinya bukan orang biasa , bahkan ada yang menyakini bahwa dari kesederhanaannya ia adalah seorang guru sufi namun ia tetap dekat dengan rakyat jelata bahkan konsis membela mereka yang lemah dan tertindas .

Begitu banyak cerita lain yang diadopsi menjadi Kisah Abu Nawas sehingga kadang-kadang cerita tersebut tak masuk akal bahkan terlalu menyakitkan orang timur . patut kita curigai jangan-jangan cerita-cerita Abu Nawas yang aneh itu sengaja diciptakan oleh kaum orientalis untuk menjelek-jelekkan masyarakat Islam . Oleh karena itu kita harus kritis dan waspada membaca cerita Abu Nawas !

Siapakah Abu Nawas.....???
Tokoh yang dianggap badut juga dianggap Ulama besar sufi ini , tokoh super lucu yang tiada bandingnya ini aslinya orang Persia yang dilahirkan pada tahun 750 M di Ahwaz dan meninggal pada tahun 819 M di Baghdad .
Setelah dewasa ia mengembara ke Bashra dan Kufa . Disana ia belajar bahasa Arab dan bergaul rapat sekali dengan orang-orang badui padang pasir .
Karena pergaulannya itu ia mahir bahasa Arab , adat istiadat dan kegemaran orang Arab . Dia juga pandai bersyair , berpantun dan menyanyi . Ia sempat pulang ke negerinya namun pergi lagi ke Baghdad bersama ayah nya , keduanya menghambakan diri kepada Sultan Harun Al Rasyid Raja Baghdad .

Bagi Sobat yang suka baca tentang cerita Abu Nawas , Disini kami Amowater Blog akan mengshare kisah-kisah Abu Nawas yang kocak itu sesuai dengan apa yang kami nukil dari sebuah buku yang berjudul Abu Nawas - Sang Penggeli Hati
Mari kita mulai kisah Abu Nawas sang penggeli hati ini ,,......!!
Pesan Bagi Para Hakim

Bapaknya Abu Nawas adalah Penghulu Kerajaan Baghdad bernama Maulana . Pada suatu hari bapaknya Abu Nawas yang sudah tua itu sakit parah dan akhirnya meninggal dunia . Abu Nawas dipanggil ke istana , la diperintah Sultan (Raja) untuk mengubur jenazah bapaknya itu sebagaimana adat Syeikh Maulana .
Apa yang dilakukan Abu Nawas hampir tiada bedanya dengan Kadi Maulana baik mengenai tatacara memandikan jenazah hingga mengkafani , menyalati dan mendo'akannya , maka Sultan bermaksud mengangkat Abu Nawas menjadi Kadi atau penghulu menggantikan kedudukan bapaknya . Namun mendengar rencana sang Sultan , tiba-tiba saja Abu Nawas yang cerdas itu tiba-tiba nampak berubah menjadi gila .

Usai upacara pemakaman bapaknya , Abu Nawas mengambil sepotong batang pisang dan diperlakukannya seperti kuda , ia menunggang kuda dari batang pisang itu sambil berlari-lari dari kuburan bapaknya menuju rumahnya .
Orang yang melihat menjadi terheran-heran dibuatnya . Pada hari yang lain ia mengajak anak-anak kecil dalam jumlah yang cukup banyak untuk pergi ke makam bapaknya itu , ia mengajak anak-anak bermain rebana dan bersuka cita .

Kini semua orang semakin heran atas kelakuan Abu Nawas itu , mereka menganggap Abu Nawas sudah menjadi gila karena ditinggal mati oleh bapaknya . Pada suatu hari ada beberapa orang utusan dari Sultan Harun Al Rasyid datang menemui Abu Nawas .
"Hai Abu Nawas kau dipanggil Sultan untuk menghadap ke istana" kata wazir utusan Sultan .
"Buat apa sultan memanggilku , aku tidak ada keperluan dengannya" jawab Abu Nawas dengan entengnya seperti tanpa beban .
"Hai Abu Nawas kau tidak boleh berkata seperti itu kepada rajamu" kata wazir .
"Hai wazir , kau jangan banyak cakap . Cepat ambil kudaku ini dan mandikan di sungai supaya bersih dan segar" kata Abu Nawas sambil menyodorkan sebatang pohon pisang yang dijadikan kuda-kudaan .
Si wazir hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuan Abu Nawas .
"Abu Nawas kau mau apa tidak menghadap Sultan ?" kata wazir .
"Katakan kepada rajamu , aku sudah tahu maka aku tidak mau" kata Abu Nawas .
"Apa maksudnya Abu Nawas ?" tanya wazir dengan rasa penasaran .
"Sudah pergi sana , bilang saja begitu kepada rajamu" sergah Abu Nawas sembari menyaruk debu dan dilempar ke arah si wazir dan teman-temannya .

Si wazir segera menyingkir dari halaman rumah Abu Nawas . Mereka laporkan keadaan Abu Nawas yang seperti tak waras itu kepada Sultan Harun Al Rasyid .
Dengan geram Sultan berkata , "Kalian bodoh semua , hanya menghadapkan Abu Nawas kemari saja tak becus !
"Ayo pergi sana ke rumah Abu Nawas bawa dia kemari dengan suka rela ataupun terpaksa" perintah Sultan .
Si wazir segera mengajak beberapa prajurit istana dan dengan paksa Abu Nawas di hadirkan di hadapan raja Namun lagi-lagi di depan raja Abu Nawas berlagak pilon bahkan tingkahnya ugal-ugalan tak selayaknya berada di hadapan seorang raja .

"Abu Nawas , bersikap sopanlah !" tegur Baginda .
"Ya Baginda , tahukah Anda....?" kata Abu Nawas
"Apa Abu Nawas....?" jawab Baginda .
"Baginda.....terasi itu asalnya dari udang !"
"Kurang ajar kau menghinaku Nawas !"
"Tidak Baginda ! Siapa bilang udang berasal dari terasi ?"
Baginda merasa dilecehkan , ia naik pitam dan segera memberi perintah kepada para pengawalnya .
"Hajar dia ! Pukuli dia sebanyak dua puluh lima kali " perintah Baginda .

Wah-wah ! Abu Nawas yang kurus kering itu akhirnya lemas tak berdaya dipukuli tentara yang bertubuh kekar . Usai dipukuli Abu Nawas disuruh keluar istana .
Ketika sampai di pintu gerbang kota , ia dicegat oleh penjaga .
"Hai Abu Nawas ! Tempo hari ketika kau hendak masuk ke kota ini kita telah mengadakan perjanjian . Masak kau lupa pada janjimu itu ?
Jika engkau diberi hadiah oleh Baginda maka engkau berkata : Aku bagi dua ; engkau satu bagian , aku satu bagian . Nah , sekarang mana bagianku itu ?"
"Hai penjaga pintu gerbang , apakah kau benar-benar menginginkan hadiah Baginda yang diberikan kepada ku tadi ?"
"lya , tentu itu kan sudah merupakan perjanjian kita ?"
"Baik , aku berikan semuanya , bukan hanya satu bagian !"
"Wah ternyata kau baik hati Abu Nawas . Memang harusnya begitu , kau kan sudah sering menerima hadiah dari Baginda" .

Tanpa banyak cakap lagi , Abu Nawas mengambil sebatang kayu yang agak besar lalu orang itu dipukulinya sebanyak dua puluh lima kali .
Tentu saja orang itu menjerit-jerit kesakitan dan menganggap Abu Nawas telah menjadi gila . Setelah penunggu gerbang kota itu klenger , Abu Nawas meninggalkannya begitu saja , ia terus melangkah pulang ke rumahnya .
Sementara itu si penjaga pintu gerbang mengadukan nasibnya kepada Sultan Harun Al Rasyid .
"Ya , Tuanku Syah Alam , ampun beribu ampun . Hamba datang kemari mengadukan Abu Nawas yang telah memukul hamba sebanyak dua puluh lima kali tanpa suatu kesalahan . Hamba mohon keadilan dari Tuanku Baginda" .

Baginda segera memerintahkan pengawal untuk memanggil Abu Nawas . Setelah Abu Nawas berada di hadapan Baginda ia ditanya .
"Hai Abu Nawas ! Benarkah kau telah memukuli penunggu pintu gerbang kota ini sebanyak dua puluh lima kali pukulan ?"
Berkata Abu Nawas, "Ampun Tuanku , hamba melakukannya karena sudah sepatutnya dia menerima pukulan itu" .
"Apa maksudmu ? Coba kau jelaskan sebab musababnya kau memukuli orang itu ?" tanya Baginda .
"Tuanku , Hamba dan penunggu pintu gerbang ini telah mengadakan perjanjian bahwa jika hamba diberi hadiah oleh Baginda maka hadiah tersebut akan dibagi dua . Satu bagian untuknya satu bagian untuk saya . Nah pagi tadi hamba menerima hadiah dua puluh lima kali pukulan , maka saya berikan pula hadiah dua puluh lima kali pukulan kepadanya mrgreen" kata Abu Nawas .
"Hai penunggu pintu gerbang , benarkah kau telah mengadakan perjanjianseperti itu dengan Abu Nawas ?" tanya Baginda .
"Benar Tuanku" jawab penunggu pintu gerbang . "Tapi hamba tiada mengira jika Baginda memberikan hadiah pukulan"
"Dasar tukang peras , sekarang kena batunya kau !" sahut Baginda" .
"Abu Nawas tiada bersalah , bahkan sekarang aku tahu bahwa penjaga pintu gerbang kota Baghdad adalah orang yang suka narget , suka memeras orang ! Kalau kau tidak merubah kelakuan burukmu itu , sungguh aku akan memecat dan menghukum kamu !" .
"Ampun Tuanku " sahut penjaga pintu gerbang dengan gemetar .

Abu Nawas berkata,, "Tuanku , hamba sudah lelah , sudah mau istirahat , tiba-tiba diwajibkan hadir di tempat ini padahal hamba tiada bersalah . Hamba mohon ganti rugi , Sebab jatah waktu istirahat hamba sudah hilang karena panggilan Tuanku Padahal besok hamba harus mencari nafkah untuk keluarga hamba" .
Sejenak Baginda melengak , terkejut atas protes Abu Nawas , namun tiba-tiba ia tertawa terbahak-bahakmrgreen"Hahahaha...jangan kuatir Abu Nawas"
Baginda kemudian memerintahkan bendahara kerajaan memberikan sekantong uang perak kepada Abu Nawas .
Abu Nawas pun pulang dengan hati gembira , Tetapi sesampai di rumahnya Abu Nawas masih bersikap aneh dan bahkan semakin nyentrik seperti orang gila sungguhan .

Pada suatu hari Raja Harun Al Rasyid mengadakan rapat dengan para menterinya . "Apa pendapat kalian mengenai Abu Nawas yang hendak kuangkat sebagai kadi ?"
Wazir atau perdana meneteri berkata,,"Melihat keadaan Abu Nawas yang semakin parah otaknya maka sebaiknya Tuanku mengangkat orang lain saja menjadi kadi"
Menteri-menteri yang lain juga mengutarakan pendapat yang sama .
"Tuanku , Abu Nawas telah menjadi gila karena itu dia tak layak menjadi kadi" .
"Baiklah , kita tunggu dulu sampai dua puluh satu hari , karena bapaknya baru saja mati . Jika tidak sembuh-sembuh juga bolehlah kita mencari kadi yang lain saja" kata Baginda .

Setelah lewat satu bulan Abu Nawas masih dianggap gila , maka Sultan Harun Al Rasyid mengangkat orang lain menjadi kadi atau penghulu kerajaan Baghdad .
Konon dalam suatu pertemuan besar ada seseorang bernama Polan yang sejak lama berambisi menjadi Kadi , la mempengaruhi orang-orang di sekitar Baginda untuk menyetujui jika ia diangkat menjadi Kadi , maka tatkala ia mengajukan dirinya menjadi Kadi kepada Baginda maka dengan mudah Baginda menyetujuinya .

Begitu mendengar Polan diangkat menjadi kadi maka Abu Nawas mengucapkan syukur kepada Tuhan "Alhamdulillah" aku telah terlepas dari balak yang mengerikan Tapi...sayang sekali kenapa harus Polan yang menjadi Kadi , kenapa tidak yang lain saja" .

Mengapa Abu Nawas bersikap seperti orang gila ? Ceritanya begini :
Pada suatu hari ketika ayahnya sakit parah dan hendak meninggal dunia ia panggil Abu Nawas untuk menghadap . Abu Nawas pun datang mendapati bapaknya yang sudah lemah lunglai .
Berkata bapaknya, "Hai anakku , aku sudah hampir mati . Sekarang ciumlah telinga kanan dan telinga kiriku" .
Abu Nawas segera menuruti permintaan terakhir bapaknya . la cium telinga kanan bapaknya , ternyata berbau harum , sedangkan yang sebelah kiri berbau sangat busuk .
"Bagamana anakku ? Sudah kau cium ?" kata bapaknya .
"Sudah Bapak !" jawab Abu Nawas
"Ceritakanlah dengan sejujurnya , baunya kedua telingaku itu"
"Aduh Pak, sungguh mengherankan, telinga Bapak yang sebelah kanan berbau harum sekali tapi yang sebelah kiri kok baunya amat busuk ?"
"Hai anakku Abu Nawas, tahukah apa sebabnya bisa terjadi begini ?"
"Wahai bapakku, cobalah ceritakan kepada anakmu ini" kata Abu Nawas

Berkata Syeikh Maulana, "Pada suatu hari datang dua orang mengadukan masalahnya kepadaku , yang seorang aku dengarkan keluhannya Tapi yang seorang lagi karena aku tak suka maka tak kudengar pengaduannya . Inilah resiko menjadi Kadi (Penghulu) .
Jika kelak kau suka menjadi Kadi maka kau akan mengalami hal yang sama, namun jika kau tidak suka menjadi Kadi maka buatlah alasan yang masuk akal agar kau tidak dipilih sebagai Kadi oleh Sultan Harun Al Rasyid . Tapi tak bisa tidak Sultan Harun Al Rasyid pastilah tetap memilihmu sebagai Kadi" .

Nah, itulah sebabnya Abu Nawas pura-pura menjadi gila , hanya untuk menghindarkan diri agar tidak diangkat menjadi Kadi . Seorang Kadi atau penghulu pada masa itu kedudukannya seperti hakim yang memutus suatu perkara . Walaupun Abu Nawas tidak menjadi Kadi namun dia sering diajak konsultasi oleh sang Raja untuk memutuskan suatu perkara Bahkan ia kerap kali dipaksa datang ke istana hanya sekedar untuk menjawab pertanyaan Baginda Raja yang aneh-aneh dan tidak masuk akal .

Our Blog

55 Cups
Average weekly coffee drank
9000 Lines
Average weekly lines of code
400 Customers
Average yearly happy clients

Our Team

Tim Malkovic
CEO
David Bell
Creative Designer
Eve Stinger
Sales Manager
Will Peters
Developer

Contact

Talk to us

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit. Dolores iusto fugit esse soluta quae debitis quibusdam harum voluptatem, maxime, aliquam sequi. Tempora ipsum magni unde velit corporis fuga, necessitatibus blanditiis.

Address:

9983 City name, Street name, 232 Apartment C

Work Time:

Monday - Friday from 9am to 5pm

Phone:

595 12 34 567